Melaut Sumber Kehidupanku

 

Padang-today.com__Motto atau seruan TNI Angkatan Laut Indonesia adalah ‘Jalesveva Jayamahe’ yang sering kali diterjemahkan sebagai “Dilautan Kita Jaya” Namu, kali ni motto yang terlahir dari nelayan Kota Pariaman, Sumbar ‘ Laut Sumber Kehidupanku’.

Pagi itu cuaca cukup cerah di sepanjang Pantai Gandoriah Pariaman, Sumbar. Terlihat jajaran kapal-kapal besar dari armada TNI AL RI menghiasi sepanjang perairan Pantai Pariaman dalam rangka menyambut Hari Nusantara Nasional, Sabtu 14 Desember 2019 di daerah itu. Bahkan beberapa dari perahu nelayan dari daerah setempat ikut berjejer dengan tertibnya mensukseskan hari puncak perayaan Hari Nusantara Nasional tersebut.

Pemerintah RI, setiap tanggal 13 Desember diperingati sebagai Hari Nusantara. Peringatan ini untuk mengenang Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 yang berisi tentang pernyataan mengenai wilayah perairan Indonesia sebagai wilayah teritorial yang menyatu dengan wilayah daratan, sehingga semua perairan yang menghubungkan daratan adalah bagian NKRI. Semangat tentang rasa kesatuan itu yang ingin dibangun pada peringati Hari Nusantara ini.

Dihari Nusantara itu, Ada sejumlah anak buah kapal sengaja duduk sambil mengobrol di atas kapalnya yang sengaja bersandar di palabuhan muaro Pariaman sembari menyaksikan perayaan Hari Nusantara itu.

Pelabuhan tersebut berfungsi sebagai tempat berlabuhnya kapal barang dan kapal wisata antar pulau-pulau kecil yang ada di daerah itu, sekaligus lokasi wisata bagi orang-orang yang ingin melihat suasana pelabuhan beserta beserta melihat kapal penangkap ikan dari dekat.

Tampak pula para wisatawan lokal yang sengaja datang untuk menyaksikan Hari Nusantara sembari menikmati wisata pantai. Ada yang mengajak anggota keluarganya, ad pula yang datang bersama teman-temannya.

Mereka mendekati kapal-kapal nelayan yang berlabuh di Muaro tersebut, lalu sesekali mengambil foto bersama dengan latar belakang deretan kapal. Di depan sebuah kapal wisata, ada seorang pria bertubuh tegap dan kekar sedang duduk bersama teman-temanya sembari memandangi suasana pelabuhan beserta para pengunjung yang lalu lalang di hadapnnya pagi itu.

Pria itu bernama Zaherli, usinya lebih kurang 40 tahun. Dia mengaku berasal dari daerah setempat. Saat ia berbicara, memang tendengar logatnya seperti piaman banget. Dia adalah seorang anak buah kapal dari suatu kapal penangkap ikan.

Sudah puluhan tahun dia bekerja sebagai pencari ikan di daerah itu. Dia mulai melaut sejak usia belasan tahun dengan bermodalkan pendidikan Sekolah Dasar (SD). “Ada lima orang yang bekerja termassuk saya di kapal ini,” kata Zaherly sambil menunjukan kapal berwarna putih merah yang bersandar di pelabuhan muaro itu.

Para pelaut mendapat penghasilan dari gaji hasil tangkapan melaut pada saat itu, kata dia, pendapatannya cukup untuk menghidupi lima orang anak. Saat ini, Pada Hari Nusantara Nasional ini dia tidak melaut.

“Ini baru pertama kalinya Hari Nusantara Nasional di gelar di Kota Pariaman ini, apa salahnya kita sisihkan sedikit waktu untuk melihat dan ikut mensukseskan perayaan hari nusantara tersebut,” ujarnya.

Ia menunjuk ke kapal tempat ia bekerja sebagai nelayan penangkap ikan itu, menyebutkan kapal yang ia gunakan itu dengan mesin sebagai tenaga penggerak dengan bobot muatanya cukup untuk 1 ton untuk sekali melaut. Kapal itu melaut dari jarak tempuh puluhan kilo yang daerahnya mempunyai ikan.

“Dilaut kami selama satu hari. Kapal ini umumnya sudah sekitar 10 tahun digunakan untuk melaut,” ujarnya.

Pada saat melaut, lanjutnya, tidak jarang bahaya mengancamnya, misalnya saat angin kencang datang pada malam hari ketika berada di tengah-tengah laut. Bagamanapun juga, ia menganggap itu sudah menjadi resiko pekerjaan. Konsekuensi yang harus dia jalani sebagai seorang pelaut.

“Soalnya, dilautlah sumber penghasilan kehidupan kami. Kalau tidk melaut ya keluarga kami mau ngasih makan apa,” ujar dia sembari tersenyum manis. (Herry Suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas