Menakar Peluang Petahana di “Dapil Panas” Lubuk Sikarah, Kota Solok

SOLOK – Usai pengumuman daftar calon sementara (DCS) Bakal Calon Legislatif (Bacaleg) DPRD Kota Solok 2019-2024 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Solok Senin (13/8) lalu, persaingan di daerah pemilihan (Dapil) I Lubuk Sikarah langsung terasa. Meski persaingan berlangsung “senyap”, aktivitas tebar pesona para Bacaleg langsung membuat semarak peta perpolitikan Kota Beras Serambi Madinah. Berbeda dengan daerah lain yang memiliki daerah basis, di Kota Solok, khususnya di Dapil Lubuk Sikarah, tidak satupun Bacaleg yang “berani” mengklaim memiliki daerah basis. Termasuk para petahana (incumbent) atau mereka yang saat ini menjadi Anggota DPRD Kota Solok. Kultur dan kekerabatan antar Bacaleg menjadi alasan utama. Hal ini diperkuat lagi dengan banyaknya calon baru yang bermunculan dan peluangnya tidak kalah dari para petahana.

Advertisements

Untuk itu, mari ikuti Poling berikut:

SILAKAN KLIK UNTUK IKUT POLLING

Menjadi petahana (incumbent), harus diakui, ada sejumlah keunggulan yang dimiliki dibandingkan calon baru. Beberapa di antaranya adalah mereka sudah berbuat dan memiliki “lakek tangan” kepada masyarakat. Mereka telah berbuat selama empat tahun belakangan. Berbagai “bantuan” kepada masyarakat terkait dengan “power” mereka sebagai Anggota DPRD Kota Solok, sudah dirasakan masyarakat. Kemudian, pengalaman mereka “lolos dari lubang jarum” di Pileg 2014, tentu akan sangat berharga. Lalu, sosialisasi nama mereka tentu saja lebih mudah dibandingkan dengan calon baru.

Namun, di sisi lain, sebagai “orang lama”, kelebihan tersebut juga diikuti dengan kelemahan. Ibarat ungkapan “Seseorang tidak akan mampu memuaskan semua orang”, tentu ada tanggapan sinis, rasa tidak senang, hujatan, bahkan kebencian terhadap para incumbent. Tentu saja, selama empat tahun belakangan, para incumbent tidak akan mampu memenuhi keinginan seluruh masyarakat, bahkan konstituennya sekalipun.

Penjelasan panjang lebar para legislator tentang keterbatasan posisi dan kewenangan mereka sebagai pengawas, legislator dan budgeting (anggaran), tidak akan mampu dipahami seluruh masyarakat dengan kepercayaan penuh. Maayarakat hanya tahu, bahwa anggota DPRD adalah pejabat tempat mengadu segala keinginan. Bahkan, dari sepuluh keinginan, satu atau dua saja tidak terpenuhi, maka sakit hati, hujatan, dengan cepat berujung pada kebencian dan antipati. Buntutnya, “satu suara yang sangat berharga” dari masyarakat akan melayang ke calon lain.

Lalu, bagaimana peluang para petahana di Dapil Lubuk Sikarah Kota Solok pada Pileg 2019 nanti? Mari kita bahas satu persatu.

Partai Golkar

Pileg 2014 menjadi ajang pembuktian bagi partai berlambang beringin. Sebanyak tiga kursi dari empat kursi mereka di DPRD Kota Solok, didapat dari Dapil Lubuk Sikarah. Ketiganya adalah Yutris Can, Ramadhani Kirana Putra dan Nurnisma. Sebagai partai “tradisional”, peluang Partai Golkar mengulang sukses tentu tetap besar. Namun, dengan semakin masifnya seluruh partai, peluang meraih tiga kursi tentu menjadi tantangan berat. Jika Partai Golkar hanya bisa meraup dua kursi di Dapil Lubuk Sikarah, tentu satu incumbent harus tumbang. Siapa? Tidak mustahil Ramadhani Kirana Putra yang meraih suara terbanyak di Dapil Lubuk Sikarah pada Pileg 2014 lalu. Atau Nurnisma yang menjadi satu-satunya anggota perempuan di DPRD Kota Solok. Bahkan, bisa jadi Yutris Can yang saat ini adalah Ketua DPRD Kota Solok, sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Kota Solok.

Partai Amanat Nasional (PAN)

Sejak bergulirnya reformasi, Partai PAN di Kota Solok menjadi partai pilihan rakyat. Terbukti, mereka menjadi partai pemenang kedua dan mendapatkan “jatah” kursi Wakil Ketua DPRD Kota Solok. Pada Pileg 2014, PAN di Dapil Lubuk Sikarah meraih dua kursi. Yakni Jon Hendra dan Angry Nursya. Di Pilkada Kota Solok akhir tahun 2015 lalu, Jon Hendra maju menjadi calon Wakil Walikota Solok, pasangan Ismael Koto. Jon Hendra kemudian menjalani pergantian antar waktu (PAW) ke Jasri. Di Pileg 2019 ini, Jon Hendra maju menjadi Bacaleg DPRD Sumbar. Bagaimana peluang Angry Nursya dan Jasri? Keduanya sama-sama berpeluang besar jika mampu merawat konstituen PAN di Lubuk Sikarah yang terkenal militan.

Partai Demokrat

Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di tiga Pemilu (2004, 2009 dan 2014) menjadi kekuatan baru di Kota Solok. Mereka selalu menjadi pemenang ketiga di Kota Solok dan mendapat “jatah” Wakil Ketua DPRD. Pada 2014 lalu, Martin Jofari mampu mengalahkan petahana sebelumnya Djasmir Ilyas dan didapuk menjadi Wakil Ketua DPRD. Pada Maret 2017 lalu, Martin Jofari meninggal dunia dan posisinya sebagai Anggota DPRD digantikan Deni Nofri Pudung, yang meraih suara terbanyak kedua di Partai Demokrat Dapil Lubuk Sikarah. Bagaimana peluang Deni Nofri Pudung? Tantangan terbesar datang dari internal partai. Yakni dari mantan petahana Djasmir Ilyas dan caleg perempuan, Darlindawati. Djasmir merupakan kakak kandung Irzal Ilyas, Mantan Walikota Solok. Sementara Darlindawati merupakan istri dari Irzal Ilyas.

Partai Gerindra

Partai berlambang kepala garuda ini mengantarkan Dalius menjadi Anggota DPRD Kota Solok periode 2014-2019. Sebagai partai yang melejit seiring popularitas Prabowo Subianto, peluang Partai Gerindra di Pileg 2019 diyakini tetap terjaga. Namun, bagi petahana, Dalius, tantangan datang dari internal. Terutama pada sosok anak muda Harizal yang menempati nomor urut 1 di DCS Dapil Lubuk Sikarah. Harizal yang akrab dengan tagline “Jack Rang Mudo Pakawan” ini, sukses menarik simpati masyarakat. Terutama kalangan anak muda. Tapi, kedewasaan berpolitik Dalius yang telah malang melintang di berbagai partai, mampu memberi nilai lebih pada dirinya. Bahkan di berbagai kesempatan, baik Harizal maupun Dalius selalu mengedepankan bahwa Partai Gerindra di Dapil Lubuk Sikarah optimistis mampu menambah kursi, bukan mengganti kursi yang ada. Menarik!

Partai NasDem

Posisi Partai NasDem di Kota Solok adalah sebagai partai pemerintah. Partai besutan Surya Paloh ini merupakan partai pengusung pasangan Zul Elfian-Reinier yang menjadi Walikota dan Wakil Walikota Solok saat ini bersama PBB dan PKPI. Bahkan Zul Elfian saat ini merupakan Ketua Dewan Pertimbangan Partai NasDem Kota Solok. Di samping sebagai partai pengusung, kepopuleran Partai NasDem di Kota Solok ikut terdongkrak berkat politisi senior Yoserizal yang menerima mandat sebagai Ketua DPD Partai NasDem Kota Solok. Peluang Partai NasDem mendapatkan satu kursi di Dapil Lubuk Sikarah tetap tinggi. Nama-nama lain yang sangat berpeluang seperti Surya Budi, Yuzaldi Maison hingga Mulyadi Tunggek.

Partai Hanura

Tradisi Partai Hanura yang selalu menempatkan wakilnya di DPRD Kota Solok tetap terjaga pada Pileg 2014. Ketokohan Rusnaldi, yang menjadi Ketua DPC Hanura Kota Solok dan “fanatisme” konstituen terhadap partai besutan Wiranto tersebut tetap terjaga. Di bawah kepemimpinan Rusnaldi, Partai Hanura di Kota Solok tampil soft dan adem. Hal ini berbuntut pada tetap tingginya dukungan tokoh dan masyarakat umum kepada partai ini. Peluang Hanura dan Rusnaldi mengamankan satu kursi dari Dapil Lubuk Sikarah diyakini tetap besar.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

Setelah tiga periode di DPRD Kota Solok, Daswippetra Dt Manjinjing Alam memutuskan untuk bertarung di Pileg DPRD Sumbar 2019 mendatang. Satu slot yang selalu menjadi milik Haji Ane (panggilan Daswippetra) kini diperebutkan Bacaleg PPP di Dapil Lubuk Sikarah. Bahkan Anggota DPRD Dapil Tanjung Harapan Herdiyulis, pindah ke Dapil Tanjung Harapan. Namun, siapa yang akan menjadi wakil PPP dari Dapil Lubuk Sikarah masih teka-teki. Pasalnya di daftar Bacaleg, ada nama-nama “beken” seperti Andi Eka Putra, Eriko Eril, Renko Rizki hingga Jon Hendra Dt Tankali.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Empat kali Pileg setelah reformasi, empat kali pula Ilzan Sumarta terpilih menjadi anggota DPRD Kota Solok. Meski begitu, Ilzan Sumarta hanya menjalani tiga periode. Satu periode dia mundur karena menyelesaikan program magisternya (S2). Sebagai andalan di Partai Dakwah, nama Ilzan begitu melekat di masyarakat Kota Solok, khususnya di Dapil Lubuk Sikarah. Namun, pada Pileg 2019 nanti, Ilzan memilih melanjutkan perjuangan dakwahnya di politik ke Pileg DPRD Sumbar. “Naik kelas”-nya Ilzan, membuat peta persaingan PKS di Dapil Lubuk Sikarah menjadi terbuka. Seluruh calon memiliki peluang sama meneruskan kiprah “Partai Dakwah” di Lubuk Sikarah. Nama-nama seperti Ramadhanus, Suyono, Taufiq Nizam, hingga Jalinus Bote saling berpacu mendapatkan simpati pemilih. (rijal islamy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*