Mendadak Mengenang Kota Padang

Taman Budaya Kota Padang.

Taman Budaya Kota Padang.

Advertisements

Padang, PADANGTODAY.COM-Mendadak saya terkenang Kota Padang. Bukan lantaran kemarin saya jajan di warung makan Padang. Atau, terlintas wajah saudara dan kawan-kawan saya di sana. Tapi karena saya membaca artikel bahwa Padang bakal menjadi tuan rumah hajatan besar berskala internasional pada Oktober 2015 mendatang. Acara itu adalah pertemuan antar-menteri Asosiasi Negara Samudra Hindia (IORA).

Bukan tanpa alasan Ibukota Sumatera Barat itu dipilih sebagai tuan rumah pertemuan yang akan diikuti 20 negara tersebut. Ternyata ada alasan mengejutkan sehingga Padang lebih dilirik dibandingkan sejumlah kota besar, seperti Yogyakarta, Cilacap, atau Denpasar.

“Kenapa Padang, karena makanannya rendang, harus dipromosikan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir di Jakarta, Kamis (11/6/2015).

Entah sahih atau tidak alasan tersebut, yang jelas Kota Padang memang menghadap Samudera Hindia sebagaimana yang diterakan terhadap IORA yang merupakan negara-negara yang berbatasan dengan Samudra Hindia.

Anggota IORA adalah; Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, Bangladesh, India, Sri Lanka, Iran, Uni Emirat Arab, Oman, Yaman, Kenya, Tanzania, Mozambik, Afrika Selatan, Uni Komoros, Madagaskar, Seychelles, dan Mauritius. Mereka konon akan mengirimkan perwakilan tingkat menteri ke Tanah Air, nanti.

IORA merupakan organisasi di kawasan Samudera Hindia yang fokus pada pengembangan kerjasama di bidang ekonomi melalui enam bidang kerja sama prioritas, yaitu: keamanan dan keselamatan maritim, fasilitasi perdagangan dan investasi, manajemen perikanan, manajemen risiko bencana, kerjasama akademik dan ilmu pengetahuan, serta pariwisata dan pertukaran budaya.

Selain itu, IORA juga memiliki dua kerjasama lintas sektoral yaitu di bidang pemberdayaan perempuan dan blue economy. Pada isu blue economy, Indonesia merupakan lead-coordinator untuk fisheries dan aquaculture. Pertemuan Tingkat Menteri di bidang tersebut akan diselenggarakan di Mauritius pada 2-4 September 2015.

Tentu saja, mengenangkan Padang bukanlah cuma karena di sana ada rendang. Mengenangkan Kota Padang adalah juga mengingat “ladang sastra”. Sebab dari negeri inilah lahir banyak penyair hebat. Ya, Minang adalah tanah puisi. Dari Ranah Minang lahir penyair-penyair besar semacam Leon Agusta, Rivai Apin, Taufik Ismail, Rusli Marzuki Saria, Gus tf Sakai, Upita Agustin, dan lain-lain.

Saya pun lantas ingat, pada senja di sepertiga akhir bulan September dua tahun lalu, saya duduk di bangku di mana dulu sastrawan AA navis juga pernah duduk menghabiskan malam bersama kawan-kawan sastrawan lainnya di kota padang.

Inilah Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat, yang terletak di pinggir Samudera Indonesia. Beda dengan AA Navis yang asyik masyuk membicarakan sastra dan mungkin juga tentang keindahan lainnya, termasuk membicarakan mahluk indah bernama perempuan, pada senja itu saya ditemani oleh langit yang mendung dan pertunjukan kesenian tradisi daerah Minang dalam acara Aktivasi Taman Budaya Sumatera Barat, Pakan Anak nagari 2013 yang menampilkan ragam seni dan kuliner Sumatera Barat.

Jika dulu Navis ditemani oleh para sastrawan Padang seperti Wisran hadi, Haris Effendi Tahar, Darman Munir, Rusli Marzuki Saria, maka kali ini saya hanya ditemani oleh holy Adib, seorang wartawan muda dari harian Haluan, sebelum akhirnya datang pula seniman teater Padang yang juga pimpinan Oldtrack Teater dan biasa nongkrong di Taman Budaya bernama Rizal Tanjung.

Rizal pun lalu bercerita, di tempat berluas 2 hektare ini dahulu ada dua lapangan bola kaki, namanya lapangan Dipo. ini milik Pemko Padang. Kemudian di sini dulu diadakan semacam pasar malam yang menjurus Padang Fair yang diadakan sekali setahun di tahun 80an. Sampai sekarang Padang Fair masih ada, tapi dilaksanakan di Gor haji Agus salim.

Padang Fair memiliki banyak stan, tapi entah apa soalnya ditinggal oleh pemiliknya. Lantas para seniman minta kepada Walikota Padang untuk dijadikan Pusat Kesenian Padang. Akhirnya, semua aset Padang Fair diduduki oleh grup-grup kesenian, teater, tari, seni rupa; maka jadilah Pusat Kesenian Padang di tahun 1975.

Awal tahun 80an, ada kebijakan dibangun taman budaya di seluruh ibu kota propinsi. Maka diusulkan kepada gubernur, waktu itu masih Azwar Anas, agar tempat ini dijadikan taman budaya. Akhirnya kota menghibahkan tempat ini kepada provinsi. ini dibangun dengan biaya pusat.

Sekarang, di Taman Budaya Sumbar berisi perkantoran dan gedung-gedung seni pertunjukan, serta warung-warung cinderamata atau kios seni yang menampung karya seniman-seniman lukis dan pengrajin. Dahulu, tahun 80an bercokol sanggar-sanggar, karena waktu itu sanggar tidak begitu banyak. Sekarang karena sudah banyak grup, maka semua sanggar dikeluarkan dari taman budaya, “Tempat ini hanya menyediakan tempat untuk berlatih. Sekarang setidaknya ada grup randai sebanyak 165, grup tari lebih 200, grup teater sekitar 30an, perupa puluhan komunitas, belum lagi yang perorangan, dan grup-grup musik,” tutur Rizal.

Rizal menambahkan, dulu yang memperjuangkan ini menjadi pusat kesenian adalah AA Navis, Khairul Harun, Wisran Hadi, Mursal Esten, Leon Agusta, M Yuspik Helmi. “Dulu di tempat ini ada lapau Catuih Ambuih milik seniman tutur bernama Bagindo Fahmi. Di tempat inilah para seniman nongkrong. Mereka nongkrong sejak jam 10 pagi sampai malam. Setelah menyerap inspirasi dari tempat ini, mereka pulang di malam hari untuk selanjutnya menulis hingga pagi,” kenang Rizal.

Menurut Rizal, mereka ngobrol sambil minum kopi, teh, dan lontong gulai paku. Jika dulu seniman sumbar mencapai popularitas di nasional dan baru kemudian memikirkan Sumbar, maka sekarang para seniman Sumbar justru membesarkan namanya di lokal dan internasional. Contohnya, Eri Mefri, seorang koreografer. Dia sudah melalangbuana ke gedung-gedung kesenian dunia seperti di Jerman, Amerika, Australia, Singapura, Jepang, China, Belanda.

Waktu terus bergerak, zaman dan rezim pun terus bergant. Setelah era AA Navis, generasi berikutnya adalah Hamid Jabar, Abrar Yusra, Rusli Marzuki Saria, Darman Munir, Haris Effendi Tahar, A ALin D, Makmur Hendrik.

Setelah mereka menyusul Syarifuddin Arifin, Rizal tanjung, Alwi karmena, Asbon Budinan haza, M Ibrahim Ilyas, Edi utama. Sekarang muncul generasi selanjutnya. Ada S. Metron, Yus Rizal KW, Nasrul Azwar, Khaerul Jasmi, Gus TF Sakai, Andri sandra, Yut Fitra.

semua yang tersebut di atas rata-rata memang sastrawan, sebab seni yang kuat ada di Sumbar memang sastra, baik sastra lisan maupun tulisan.

Padang ya Padang. Seperti galibnya riwayat pertumbuhan kota di dunia, di antara cerita yang menarik itu, terselip juga kisah kelam sebuah kota. Di samping kabar menggembirakan mengenai IORA, saya juga membaca berita tentang fenomena prostitusi di Padang yang merebak ibarat fenomena gunung es. Sedikit muncul ke permukaan, banyak terjadi di bawah permukaan tapi tak terungkap.

Surat kabar yang beredar di adang, HALUAN, mewartakan, jajaran penyidik Satreskrim Polresta Padang menetapkan mucikari alias germo yang “menjual” dua perempuan belia, “BA”(42) sebagai tersangka. Ia terjerat UU Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002 karena diduga mengeksploitasi anak. Hingga kini penyidik Reskrim terus mendalaminya.

Hmmm… Padang memang sedang menggeliat. Datanglah ke pinggirann pantai jika malam tiba, khususnya saat malam minggu. Warung-warung berjajar di tepi pantai, sementara para penjual jagung memadati kedua sisi Jembatan Siti Nurbaya untuk melayani para pelancong yang memadati jembatan yang mengambil tokoh dalam novel “Kasih Tak Sampai” karya Marah Roesli.

Ah ya, sedemikian terkenalnya tokoh Siti Nurbaya dalam novel itu. Namanya bukan saja disematkan untuk nama jembatan, namun kisahnya sudah sedemikian identik dengan Padang. Tapi omong-omong, nama Marah Roesli sebagai penulisnya tak saya temukan di seluruh penjuru kota Padang, sebagai nama jalan, misalnya.

Bukankah seorang pahlawan bukan hanya mereka yang mengangkat bedil dan kelewang? Mereka yang mengukir sejarah melalui pena dan perkataan juga patut disebut pahlawan, bukan? Yang namanya sangat layak untuk dikenang sebagai nama jalan, gedung, atau apapun yang gampang diingat orang.

(JodhiY/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*