Menelisik Peluang Indonesia Emas 2045

Oleh: Syaiful Anwar

Mahasiswa Program Doktor Ekonomi

FEB Universitas Andalas

Indonesia emas adalah kondisi Indonesia yang dicita-citakan pada saat 100 tahun kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia yaitu negara Indonesia yang maju berdaulat adil dan makmur dan menjadi bangsa yang unggul menjadi pusat pendidikan teknologi dan peradaban dunia serta menjadi negara yang mandiri dan paling berpengaruh di Asia Pasifik. Gagasan tentang Indonesia emas ini dikatakan dikemukakan oleh presiden Joko Widodo pada 31 Desember tahun 2015 di Merauke di mana beliau menuliskan 7 poin dengan tulisan tangan beliau sendiri. Kita tahu bahwasanya tahun 2015 adalah lebih kurang satu tahun kepemimpinan presiden Joko Widodo jadi masih melihat Indonesia dengan sangat optimis.

Indonesia emas tahun 2045 jika dilihat dari kondisi sekarang tahun 2023 lebih kurang 22 tahun lagi adalah suatu waktu yang relatif bisa dianggap singkat jika yang kita maksudkan adalah terjadinya perubahan yang signifikan dari bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan maju dan paling berpengaruh di Asia Pasifik tersebut namun di sisi lain juga bisa kita katakan waktu yang cukup kalau kita lihat sejarah bagaimana Baginda nabi mengubah peradaban dunia dan waktu yang lebih kurang 22 tahun juga.

Dikatakan bahwa visi Indonesia emas 2045 itu terdiri dari empat pilar yaitu pembangunan sumber daya manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kedua adalah pembangunan ekonomi berkelanjutan pilar yang keempat adalah pemerataan pembangunan sedangkan pilar yang ketiga adalah ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.

Visi Indonesia emas 2045 ini kemudian diterjemahkan oleh Bappenas dan kementerian serta lembaga terkait dengan berbagai program strategis sesuai dengan empat pilar sebagaimana yang dikemukakan di atas.

Pada tulisan ini kita fokus kepada isu pembangunan sumber daya manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui 4 bidang yaitu pendidikan kesehatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebudayaan.

Dari segi pendidikan ditargetkan adanya peningkatan taraf pendidikan Raden Indonesia yang dipercepat di mana diharapkan tahun 2026 sampai 2045 rata-rata pendidikan lama sekolah menjadi 12 tahun. Sedangkan data tahun 2021 menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah atau rls di Indonesia adalah sebesar 8,54 tahun artinya butuh usaha yang sangat besar yang sangat masif untuk mencapai target menjadi 12 tahun itu mengingat jumlah penduduk Indonesia yang berusia sekolah itu sangat tinggi dengan total jumlah penduduk tahun 2010 sebesar 238,5 juta jiwa dan diperkirakan tahun 2045 menjadi 318,7 juta jiwa. Angka ini juga diimbangi dengan peningkatan harapan hidup dari 69,8 tahun pada 2010 menjadi.

Sehubungan dengan target pertama ini yaitu adanya peningkatan rata-rata lama sekolah menjadi 12 tahun itu tentu membutuhkan berbagai elemen mulai dari penyediaan sekolah tenaga pendidik tenaga kependidikan biaya operasional infrastruktur dan seterusnya.

Berikutnya adalah cita-cita tentang adanya peningkatan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi atau APK diharapkan tahun 2045 mencapai 60%. Angka partisipasi kasar artinya adalah proporsi jumlah anak sekolah atau mahasiswa pada suatu jenjang pendidikan tertentu dalam kelompok umur yang sesuai dengan jenjang pendidikan tersebut semakin tinggi APK berarti semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan atau di suatu wilayah. Dalam konteks perguruan tinggi APK artinya adalah proporsi anak pada usia mahasiswa yang SLTA yang memang menempuh pendidikan tinggi pada berbagai perguruan tinggi yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Kalau kita perhatikan menurut data BPS angka partisipasi kasar pada tingkat perguruan tinggi Indonesia pada tahun 2021 adalah sebesar 31,19% artinya pemenuhan pendidikan di perguruan tinggi belum mencapai sepertiga dari populasi dengan usia aktif yaitu 19-23 tahun. Angka 60% pada tahun 2045 dalam jangka waktu 22 tahun itu seperti kedengarannya terlalu indah untuk menjadi kenyataan karena sudah 77 tahun Indonesia yang merdeka angkanya masih bergerak di angka 30%-an dan ini diharapkan dalam jangka waktu 22 tahun menikah dua kali lipat atau sekitar 60%. Namun dalam konteks optimis dapat kita katakan bahwasanya Indonesia bisa melakukan percepatan atau speed up untuk adanya penyerapan pendidikan tinggi Indonesia sehingga angka tadi bisa tercapai beberapa langkah diantaranya telah sedang dan terus dilanjutkan untuk dilakukan di masa yang akan datang diantaranya adalah pemberdayaan perguruan tinggi swasta di samping perintah kepada perguruan tinggi negeri untuk memperluas layanannya dengan adanya multi kampus misalnya kemudian juga mengundang perguruan tinggi di luar negeri untuk melaksanakan proses penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia dan satu lagi adalah adanya sistem pendidikan secara daring atau online sehingga tidak ada batasan waktu dan tidak ada batasan jarak serta tidak ada kendala dalam transportasi untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Di samping itu berbagai beasiswa atau fasilitasi pelaksanaan pendidikan tinggi juga diupayakan baik yang berasal dari APBD APBN bantuan dan negeri maupun dengan menggandeng pihak swasta mendorong masyarakat untuk ikut membiayai pendidikan tinggi sehingga semakin tinggi angka partisipasi kasar perguruan tinggi di Indonesia.

Isu yang ketiga adalah porsi tenaga kerja lulusan pendidikan menengah ke atas diharapkan sebesar 90% pada tahun 2045 bandingkan dengan misalnya data saat ini pada tahun 2021 saja terdapat 3,6 juta lulusan SMA dan yang melanjutkan ke perguruan tinggi adalah sekitar 1,3 juta lebih atau sekedar 38% artinya sisanya memilih untuk bekerja.

Saat ini memang mayoritas angkatan kerja Indonesia pada tahun 2020 adalah lulusan SMA yang disusul oleh lulusan sekolah dasar yang jumlahnya mencapai 26,2% angka inilah yang diharapkan pada visi Indonesia 2045 menjadi 90%. Ada dua strategi yang mungkin bisa diterapkan yang pertama menyemarakkan pendidikan penyetaraan sehingga orang yang pendidikan SD kemudian disetarakan menjadi sampai kepada sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas atau yang kedua memang menuntaskan target pendidikan dasar 15 tahun sehingga diharapkan 90% bekerja di Indonesia adalah lulusan sekolah menengah atas.

Isu yang ke-4 di bidang pendidikan adalah meningkatkan proporsi lulusan profesional dalam bidang ilmu teknik. kenapa ilmu teknik asumsinya adalah bahwa untuk menjadi negara maju itu haruslah menjadi negara industri dan negara industri itu adalah negara di bidang teknik atau insinyur. Saat ini proporsi tenaga teknik atau insinyur di Indonesia masih sangat sedikit sekali hanya sekitar 9000 orang dari 750.000 insinyur di Indonesia yang bekerja sebagai insinyur profesional artinya sisanya bekerja tidak sesuai dengan bidang keilmuannya padahal keilmuan teknik ini dibutuhkan untuk mendorong terjadinya industrialisasi di Indonesia. Bandingkan misalnya dengan di Vietnam untuk negara-negara ASEAN Vietnam mempunyai insinyur lebih dari 800.000 orang Indonesia di angka 750.000 tadi disusul yang ketiga oleh Filipina di angka 500 ribuan kemudian Thailand 276.000 Myanmar 250.000 Singapura 150.000 dan Malaysia sekitar 100.000 orang.

Namun yang menariknya adalah meski jumlah sarjana teknik atau insinyur di Indonesia relatif besar yaitu sekitar 750.000 akan tetapi yang bekerja sebagai insinyur profesional hanya sekitar rp9.000 orang saja bandingkan misalnya dengan Malaysia dengan hanya mempunyai 205.000 orang insinyur tapi yang bekerja sebagainya profesional lebih dari 11.000 orang dan yang paling tinggi di sini adalah Thailand yang insinyurnya sebanyak 276.000 tapi yang bekerja sebagai insinyur profesional lebih dari 23.000 orang sedangkan dari segi jumlah insinyur per satu juta penduduk Indonesia Malaysia dan Myanmar relatif beriring di angka 3 ribuan sedangkan Thailand di 4000an Filipina 5 ribuan Vietnam 8 ribuan dan yang paling tinggi adalah Singapura 28 ribuan orang insinyur. Dari data ini kita bisa melihat bahwasanya semakin maju suatu negara semakin banyak jumlah penduduknya yang menempuh pendidikan teknik atau insinyur dan semakin banyak yang bekerja sebagai insinyur profesional.

Ke depan tentu lebih mengedepankan pendidikan teknik atau pendidikan eksak atau pendidikan insinyur yang diharapkan dapat mendorong terjadinya industrialisasi di Indonesia sehingga visi Indonesia emas 2045 akan bisa dicapai.

Namun demikian ada suatu hal yang perlu diingat juga bahwasanya proses industrialisasi tidak hanya melibatkan ahli teknik atau insinyur saja tapi adalah kolaborasi atau sinergi dari berbagai disiplin ilmu sehingga proses industrialisasi itu betul-betul memberikan nilai tambah yang optimal dan bisa memberikan kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi negara.

Artinya semua program studi atau fakultas di pendidikan tinggi diharapkan orientasinya adalah industrialisasi tidak terpenting juga kemungkinan besarnya adalah industri kreatif pariwisata dan berbagai turunannya tidak meluruh adalah industri manufaktur.

Isu yang terakhir dari peningkatan sumber daya manusia Indonesia di bidang pendidikan adalah berusaha meningkatkan pendidikan vokasi yang berorientasi kepada permintaan pasar.

Dulu pada masa pemerintahan presiden BJ Habibie menteri pendidikan nasional atau Mendikbud pada waktu itu Profesor Doktor Wardiman Djojonegoro pernah mengemukakan suatu konsep yaitu link and match di mana dunia pendidikan diharapkan terhubung dan sesuai dengan dunia usaha dan dunia industri. Pada masa itu digalakkanlah pendidikan sekolah menengah kejuruan kemudian dihubungkan dengan dunia industri dan dunia usaha dengan berbagai kegiatan dengan berbagai fasilitas dan dorongan berbagai insentif pada setiap tingkatan dan setiap bidang. Kamu seiring bergantinya pemerintahan dan berjalannya waktu konsep ini seperti hilang dan berganti dengan istilah-istilah yang lain dan tidak terlihat lagi adanya orientasi yang jelas antara permintaan pasar di dunia usaha dan teknik industri dengan penyediaan lulusan dari pendidikan vokasi baik itu di tingkat sekolah menengah maupun di tingkat pendidikan tinggi. Sepertinya inilah yang disadari oleh pemerintahan saat ini bahwasanya memang perlu menyesuaikan atau menyelaraskan output lulusan yang dihasilkan oleh sistem pendidikan nasional dengan permintaan akan tenaga kerja di dunia industri dan dunia usaha. perlu juga diingat di sini bahwasannya lulusan dimasukkan tidak harus bekerja sebagai karyawan atau sebagai profesional tapi juga adalah sebagai pengusaha atau pelaku usaha atau agen-agen ekonomi yang akan menggerakkan roda ekonomi baik di dekat lokal nasional global regional.

Adalah apalagi dengan adanya perkembangan internet yang sudah semakin masif saat ini maka peluang untuk pendidikan vokasi yang berorientasi kepada dunia usaha dan dunia industri ini semakin meningkat dan semakin besar peluangnya untuk terlaksana.

Kembali kepada judul opini ini tentang peluang Indonesia menjadi Indonesia emas atau generasi emas pada tahun 2045 atau setelah 100 tahun kemerdekaan Indonesia tentu saja peluang itu masih besar.

Pada masa lalu memang dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk menjadi negara maju misalnya Jepang mungkin lebih dari 50 tahun kemudian Korea juga demikian lebih dari 40 tahun dan seterusnya tapi ingatlah saat ini ada negara-negara di Uni emirat Arab seperti Abu Dhabi Dubai dan seterusnya juga beberapa negara di timur tengah Qatar Kuwait dan lain-lain mereka bergerak dari gurun yang gersang menjadi negara maju dengan kesejahteraan yang tinggi dan seterusnya dalam kurun waktu juga lebih kurang 20 tahunan.

Jadi ke depan cita-cita Indonesia emas yang digagas untuk mensyukuri 100 tahun kemerdekaan Indonesia haruslah menjadi cita-cita kita bersama dan kita semua menjadi bagian dari cita-cita itu dengan melakukan apa yang kita bisa sesuai dengan bidang masing-masing pada saat ini.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*