Mistis Pulau Gosong

Pulau Gosong satu dari lima pulau yang terletak di lepas pantai Pariaman, dan nyaris tak dikunjungi oleh masyarakat umum kecuali nelayan

Advertisements

Padang-today.com___Memperingati Hari Asyura (10 Muharram) mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW. di Pariaman, Sumbar, menggelar Pesta Budaya Tabuik.

Tabuik dilambangkan sebagai keranda jenazah Imam Husein. Pesta Budaya Tabuik ini sebagai perayaan memperingati Hari Asyura (10 Muharram). Prosesi Tabuik merupakan ritual tua.

Ritual ini berkembang di Pariaman secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Secara harafiah, Tabuik berasal dari bahasa Arab yang berarti Tabut. Kendati mengenang sosok Husein memang tradisi Syiah, namun di Pariaman tak ada lagi batas pemahaman.

Tabuik menjelma menjadi sebuah tradisi budaya khas anak nagari. Sementara itu, tradisi Tabuik sudah ada sejak awal abad ke-19 Masehi. Tradisi ini dibawa oleh serdadu Inggris asal India selatan.

Tiang untuk puncak Tabuik, sebuah keranda berbentuk menara yang dibuat dan dipertunjukkan pada saat Budaya Tabuik, dicari ke Pulau Gosong  dengan waktu tempuh 2,5 jam dari kota itu, atau sekitar 19.9 km (14.4 miles) dari daratan.

Tonggak atau tiang puncak atau biasa disebut ‘Gomaik’ itu memang diperlukan kayu khusus, kuat dan memerlukan daya lentur jika diayun saat Tabuik dihoyak,” kata Pengamat Budaya Pariaman, Abrar Khairul Ikhirma di Pariaman.

Laut menjadi persinggahan terakhir prosesi Tabuik. Hal ini sebagai simbol terbangnya buroq yang membawa jasad Husein ke surga. Tabuik di Pariaman ada nilai agama, sejarah, dan budaya membentuk esensi keberagaman yang tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai budaya lokal.

Abrar menjelaskan, tiang puncak menyangga “bungo” berbentuk payung dan berada di bagian bangunan tertinggi Tabuik.

Pulau Gosong, katanya, satu dari lima pulau yang terletak di lepas pantai pariaman,  kini masuk dalam wilayah Kota Pariaman dan nyaris tak dikunjungi oleh masyarakat umum kecuali nelayan.

Kendati demikian, tidak semua nelayan yang berminat mampir, karena pulau itu dikelilingi hamparan karang dan berbahaya bagi keselamatan perahu sebab susah untuk mendekati bibir pantai.

Maka itu, kata Abrar, setiap penyelenggaraan Tabuik ini sengaja anak Nagari membuat tiang penyangga puncak Tabuik dari Pulau Gosong yang dianggap sebagai pulau mistis.

Jarak Pulau Pulau di Pariaman

Sebagai tiang puncak itu, diambil urat gantung batang “Jawi-jawi” atau biasa disebut beringin yang usianya sudah tua berada di pulau itu.

Selain mendapatkan kayu untuk tonggak puncak, juga diambil kayu untuk tonggak peti-peti atau kamar-kamar yang terdapat di bagian pinggang Tabuik.

Pengambilan sampai berlangsung selama dua jam, karena kesulitan untuk memotong dan mengeluarkannya dari kerimbunan pohonnya. Satu dua orang harus memanjat ke atas pohon ke dahan setinggi 7 sampai 8 meter dari permukaan tanah itu,” terangnya.

Azwar, salah satu pembuat Tabuik Anak Nagari yang ikut dalam upaya pencarian kayu untuk tiang puncak tersebut mengaku, proses pengambilan tidak mudah.

Ia bersama tim kerjanya, harus melakukan ritual tersendiri sebagai bentuk izin atas penunggu pulau yang masih asri tersebut agar tidak berimbas buruk di kemudian hari.

Selama ini, pulau tersebut sudah membuat banyak perahu nelayan hancur karena kondisi karangnya, seakan akan tidak mau disinggahi oleh nelayan.

Sebagian besar masyarakat nelayan di wilayah pesisir pariaman mempercayai, konon dulunya pulau tersebut didiami oleh makhluk halus. Mistis yang digembar gembor ini lah masyarakat setempat tidak mau menjambangi pulau tersebut.

Sebut saja Nasir (87) salah satu warga yang tinggal dipesisir Padangpariaman mengatakan,  pada saat melintasi pulau tersebut  akan terlihat sebuah istana yang megah dan dihiasi oleh lampu lampu hias. Padahal dari kejauhan pulau tidak berpenghuni itu seperti pulau biasa yang hijau dipenuhi pohon kelapa, dan pohon beringin dan tumbuhan liar lainya.

Setiap nelayan yang sering melaut, telah mengetahui keberadaan dan cerita mistis tentang pulau gosong tersebut. Dan bahkan dipulau gosong tersebut, para nelayan yang melintasi pulau itu sering mendengar dan melihat makhluk aneh. Dan di pulau itu terdengar seperti orang berpesta dengan gemuruh gendang cuku ramai,” kata Nasir.

Keanehan dan mistis ghoib di pulau tersebut, terangnya, hanya sebagian kecil nelayan yang bisa merasakan dan melihat di pulau tersebut. Namun hinga kini, mistis seperti itu tidak pernah didapatkan dan dirasakan oleh nelayan, setelah tumbuh kembangnya pariwisata di Kota Pariaman pada saat ini.

Untuk datang kepulau tersebut, kata dia, menghabiskan  waktu 3 jam menggunakan perahu bercadik mesin 9 pk jika cuaca dan arus laut normal,” kata dia.

Lain dengan Puddin, (45) Salah seorang warga setempat,  mengaku sering datang ke pulo tersebut untuk membawa para wisatawan yang hendak memancing ikan di malam hari di sekitar karang pulau tersebut.

Suatu malam saat sedang anteng menunggu kail pancing ditarik oleh ikan, tiba-tiba ia mencium bau amis, tidak beberapa lama kemudian bau bunga tanjoeng cukup wangi diterima oleh hidung dan bau bunga rampai, bungga khas untuk orang meninggal. Baunya ini kemana mana sehingga orang yang merasakan itu membuat bulu kuduknya merinding.

Padahal para wisata mancing malam tidak memakai atau membawa parfum atau wewanggian di perahunya. Anehnya, salah satu dari lima orang wisata mancing malam itu berbicara ngaur dan tidak diketahui siapa lawan bicaranya. Kemudian, teman temannya yang ikut pada saat itu tidak mau mengambil resiko, sehingga acara memancing di pulau tersebut batal, dan kami kembali ke daratan,” terangnya.

Tidak ingin cari masalah, Pudin dan para wisata mancing malam pun kembali ke lokasi memancing ikan sebelumnya di pulau lainya. Ketika di perjalanan, ia bertemu dengan beberapa perahu nelayan yang membawa para wisata mancing malam. Pudin pun tidak mau memberitahukan kepada teman seprofesinya itu tentang keanehan-keanehan dipulau gosong itu.

Nelayan Pariaman Melaut (pukek)

Pudin tidak ingat pasti kapan berapa kejadian tersebut berlangsung. “Sekitar tahun 1999 atau 2000 lah, lagi maraknya wisata mancing malam,” kata dia.

Sejak kejadian tersebut, Pudin tidak kaget lagi jika ada orang yang bercerita tentang Pulau Gosong salah satu pulau paling asik untuk mancing malam. Kenapa tidak, di sekitar karang-karang tersebut banyak ikan karang yang selalu dibawa oleh para pemancing mania di malam hari.

Secara pribadi, Pudin belum pernah mengalami kejadian di luar nalar di pulau gosong tersebut. Hanya satu yang ia takutkan saat mengunjungi pulo itu, yakni serangan batu karang dan jika cuaca dan arus laut tidak normal.

Dewasa ini Kota Pariaman setelah tumbuh kembang wisata bahari di kota ini. Selain itu memiliki berbagai fasilitas seperti banana boat, jetski dan berbagai jenis olahraga pantai lainnya. Dari pantai ini pula, wisatawan bisa mengakses ke gugusan enam pulau kecil di dekatnya, yakni Pulau Kasiak, Pulau Angso, Pulau Tangah, Pulau Ujung, Pulau Gosong dan Pulau Bando. Pantai ini sangat ramai pengunjung nya tepat hari raya idul fitri dan liburan tahun baru.

Pantai Angso Duo yang berada pariaman jika kita menuju ke pantai ini melalui Pantai Gandoriah. Selanjutnya, dari Pantai Gandoriah bisa naik perahu motor yang mempunyai tarif sebesar 35 ribu rupiah per orang , langsung menuju ke Pulau Angso Duo Pariaman. Perjalanan naik perahu cukup singkat, sekitar 10 hingga 15 menit. Perahu berangkat terakhir pukul 15.00 WIB dan pulang paling lambat pada pukul 18.00 WIB.

Pulau Angso duo ini memiliki pasir yang putih serta air nya yang jernih dan mitos yang ada di pulau ini jika kita mengelilingi pulau ini dengan jalan kaki sambil berdoa maka apa yang kita harap kan akan terwujud. Penasaran langsung saja tetapi jangan takut sama matahari jika kalian mau jalan kaki mengelilingnya. (tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*