Muhammad Ali, Hidup dan Mati Sebagai Pejuang Sejati

Muhammad Ali

Muhammad Ali

Advertisements

Dari sekian hal kontrovesial di sekitar kehidupan petinju legendaris Muhammad Ali, pilihannya untuk menjadi seorang muslim adalah hal yang paling banyak jadi bahan perbincangan. Mungkin, Ia adalah tokoh masyarakat modern paling menonjol yang berpindah keyakinan dari Kristen ke Islam. Ia menyebabkan kegemparan ketika ia mengubah namanya dari Cassius Marcellus Clay Jr menjadi Muhammad Ali pada tahun 1964. Bukan sekedar sensasi, hingga akhir hayatnya ia memiliki hubungan batiniah-aqidah yang terus berkembang dengan agama Islam.

“Mereka menyebutnya Black Muslim (Muslim Kulit Hitam),” kata Clay atau Ali yang saat itu masih berusia 22 tahun. “Ini adalah kata pers, bukan nama yang sah. Islam adalah agama, dan ada 750 juta orang di seluruh dunia yang percaya dan memeluknya, dan aku salah satu dari mereka.”

Setelah mengalahkan Sonny Liston dengan TKO dalam pertarungan gelar kelas berat yang kontroversial, Ali kemudian diketahui bergabung dengan kelompok yang menamakan diri Nation of Islam, yang pada saat itu terkenal di Amerika dengan ajaran yang dianggap menyimpang dari kebanyakan organisasi kaum Muslimin lain yang sudah ada di Amerika.

Nation of Islam (NOI) adalah sebuah gerakan keagamaan yang menyebut berlandaskan Islam di Amerika. NOI didirikan di Detroit, Michigan oleh Wallace Fard Muhammad pada bulan Juli 1930. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kondisi spiritual, mental, sosial, dan ekonomi dari kaum Afro Amerika di Amerika Serikat dan seluruh umat manusia. Pada tahun 60an kritikus dan publik di Ameika menuduh NOI menyerukan supremasi kulit hitam dan antisemitisme

Sampai 11 tahun kemudian pada tahun 1975, sosok Muhammad Ali identik dengan kaum Sunni di Amerika, dan Ia muncul kembali dengan pemahamannya pada ajaran Sufi pada tahun 2005.

Dalam buku yang baru-baru ini dirilis berjudul “Blood Brothers” sejarawan Randy Roberts dan Johnny Smith juga mencatat persahabatan intens Muhammad Ali dan aktivis sosial Malcolm X, ” Sosok yang menjadi magnet bagi Clay yang menariknya ke arah lingkaran dalam Bangsa.”

Pada awal 1960-an, ada sebuah kekhawatiran dimana kedekatan dan kesibukan Muhammad Ali dengan Nation Of Islam bisa membuatnya kehilangan gelar tinju kelas berat. Namun sebaliknya, tak hanya mengalahkan Liston, Ali bahkan kemudian muncul sebagai tokoh politik pada tahun 1967 karena menolak induksi ke dalam angkatan bersenjata selama Perang Vietnam, dan mengarahkan nya pada hukuman suspensi tiga tahun.

Saat itu Ali terang-terangan mengatakan, “Kenapa saya harus mengenakan seragam dan pergi sejauh ribuan mil untuk memerangi kaum yang berkulit coklat, sementara orang-orang yang disebut Negro di Louisiana diperlakukan sangat buruk. Saya tidak akan berperang dengan Viet Cong, karena tak ada satupun orang Vietnam yang menyebut saya Nigger.”

“Hubungan antara Cassius Clay dan Malcolm X mengisyaratkan arah baru dalam budaya Amerika, satu dibentuk oleh kekuatan olahraga dan hiburan, ras dan politik,” kata Roberts dan Smith. “Di bawah bimbingan Malcolm, [Ali] memeluk panggung dunia, muncul sebagai simbol kebanggaan dan kemerdekaan kaum kulit hitam internasional. Tanpa Malcolm, Muhammad Ali tak akan pernah menjadi ‘raja dunia.’”

Tapi ketika Malcolm X secara politik memisahkan diri dari Nation of Islam, persahabatannya dengan Ali juga terputus. Setelah Malcolm X dibunuh pada tahun 1965, Ali menyatakan penyesalannya bahwa ia tidak sempat memperbaiki persahabatan.

Dalam sebuah posting Facebook, Yasir Qadhi, seorang profesor studi agama di Rhodes College di Memphis, Tennessee, menyebut pengaruh positif Ali pada Muslim Amerika. “Jika seandainya satu-satunya hal baik yang ia perbuat adalah membawa citra positif Islam, dan menyebarkan nama Nabi kita tercinta Muhammad SAW di setiap rumah tangga dan pada setiap lidah di dunia, maka itu adalah kehidupan yang memang patut ditiru,” tulis Qadhi. Dia juga memuji aktivisme politik yang positif dari sosok Ali dan bagaimana ia telah “memberitakan kebenaran pada kekuasaan. “Ia memeluk Agama Islam pada saat Islam adalah sebuah agama yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat Amerika, Ia kemudian ia menjadi Sunni setelah Malcolm X memperkenalkannya kepada Islam mainstream, dan dia menjadi orang yang bangga menjadi Muslim sejak saat itu. ”

Seperti pada Desember tahun lalu, Ali masih memainkan perannya sebagai pendukung hak-hak Muslim. Dia terang-terangan menanggapi pernyataan kontroversial calon presiden dari Partai Republik Donald Trump yang menyatakan akan menghentikan imigrasi Muslim ke Amerika jika terpilih sebagai Presiden. Pernyataan Trump ini menjadi headline banyak surat kabar di Amerika. Saat menanggapi pernyataan Trump itu, Ali tidak menyebutkan nama Trump, tapi jelas bahwa niatnya adalah untuk mempromosikan citra positif umat Islam dan dan menengahi penilaian masyarakat Amerika soal Islam radikal dan hubungan dengan terorisme.

Hidupnya yang hanya sekali Ia gaungkan dalam dua sisi yang menginspirasi sekian banyak orang di dunia. Baik sebagai seorang petinju berprestasi atau sebagai seorang Muslim. Muhammad Ali meninggal dunia pada 3 Juni 2016, pada usia 74 tahun di Scottsdale, Arizona, Amerika Serikat. Ali wafat setelah 32 tahun bergelut dengan penyakit Parkinson. (Rijal Islamy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*