Musibah Kabut Asap Sumatera-Kalimantan Apa Sumbar Terdeskriminasi?

Bandung,PADANGTODAY.COM-Gerah dengan wajah pemberitaan nasional yang identik dengan musibah kabut asap. Tergambar kabar dari kampung halaman, yang bisa dilihat via sosial media semacam Instagram, Facebook, Twitter, bahkan koran online, Sumatera Barat juga berada dalam status darurat kabut asap.
Ini diakui BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika-red), tercatat di Global Atmosphere Watch (GAW) Koto Tabang Agam, bahwa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per Senin (26/10), konsentrasi harian aerosol PM10 (partikel debu) berada di level 470 mikrogram, atau dalam kategori berbahaya. Dan angka tersebut mengalami kenaikan disetiap jamnya.
Apa layar portal berita Indonesia juga tertutup kabut asap atas musibah yang turut melanda Nagari Minang? Mengapa Sumatera Barat seakan didiskriminasi? Minimal inilah gambaran perasaan segelintir mahasiswa perantauan yang berada di Nagari Urang, salah satunya Muhammad Furqan Akbar.
“Tak hanya saya, atas nama Unit Seni Budaya Minang (USBM) Univesitas Telkom Bandung yang merupakan komunitas perantau Minang pun berfikir demikian. Kami ingin berbuat untuk nagari kami, kami tak bisa hanya tinggal diam menunggu bantuan untuk kampung halaman kami yang entah kapan bisa terealisasi, lebih baik kami berusaha dengan kekuatan kami sendiri,” papar Furqan via telepon pada Rabu (27/10) kepada Markom Dompet Dhuafa Singgalang, Annisa Aulia.
Bergerak mandiri mengumpulkan massa, Furqan menggandeng BEM Universitas Telkom Bandung sukses menggaet 60 relawan  untuk melakukan penggalangan dana untuk kampung halaman dengan tema ‘USBM untuk Sumbar’.
“Meski kami berada di nagari urang, kami ingin membuktikan cinta kami terhadap kampung halaman. Mungkin hanya ini yang bisa kami lakukan sebagai bentuk kepedulian kami atas musibah asap yang melanda Nagari Ranah Minang,” imbuh Furqan.
Penggalangan dana berlangsung secara masiv dari Senin (12/10), hingga finalisasi Rabu (27/10).
“Pelaksanaan aksi via medsos, pembukaan rekening, sosialisasi kampus, serta aksi turun ke jalan-jalan sekitar kampus dan seputaran kota Bandung,” Furqan meneruskan ceritanya.
Menurutnya, tanggapan masyarakat sangat bagus atas aksi ini. Kegiatan ini mengundang partisipasi segenap masyarakat untuk turut peduli terhadap bencana kabut asap yang melanda Sumatera Barat. Seperti yang ia temui di daerah Pasar Minggu Telkom dan dalam agenda Car Free Day (CFD) Dago pada Minggu (25/10).
“Untuk finalisasi kegiatan, kami akan menyalurkan donasi yang terkumpul lewat Dompet Dhuafa Singgalang. Kami berharap lewat agenda ini kami bisa membantu masyarakat Sumbar yang menjadi korban musibah kabut asap Riau. Semoga lewat aksi kami, juga dapat menggerakkan lembaga bahkan pemerintah untuk dapat menanggulangi kondisi daerah-daerah yang menjadi korban, tanpa ada diskriminasi terhadap wilayah lainnya,” pungkas Furqan. (n/can)

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*