Napi Di Meulaboh Dianiaya Sipir Karena Tak Lunasi Hutang

aniayaBanda Aceh, PADANGTODAY.com – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh Pos Meulaboh pun menyatakan penyesalannya dan mengecam keras perbuatan atas Kekerasan yang menimpa napi di Lembaga Permasyarakatan (LP) Kelas II B Meulaboh

Sebelumnya kekerasan serupa juga pernah terjadi di LP tersebut. Pada bulan Januari 2014 lalu. Kejadian sebelumnya menimpa Napi atas nama Ade Siswanto yang dianiaya sipir hingga meregang nyawa.

Koordinator LBH Banda Aceh Pos Meulaboh, Wahyu Pratam SH mengatakan, Senin (1/9), LBH Banda Aceh Pos Meulaboh mendapatkan informasi bahwa telah terjadi penganiayaan terhadap napi binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Meulaboh.

“Lalu kita langsung melakukan investigasi terkait isu tersebut,” kata Wahyu Pratam, Rabu (3/9) di Banda Aceh.

Adapun Napi yang menjadi korban kekerasan tersebut Anwar (42) berasal dari Banda Aceh yang telah divonis 7 tahun penjara kasus penggelapan dan telah menjalani hukuman 1 tahun.

Menurut Wahyu, penganiayaan itu terjadi pada tanggal 27 Agustus 2014 lalu dan dilakukan oleh petugas LP berinisial HZ. Akibatnya korban mengalami luka lebam di tangan dan di tubuh. Korban Anwar juga mengalami gangguan pada telinga yang berdengung dan sakit akibat dari pemukulan dan penganiayaan tersebut.

“Bahkan korban napi tersebut ditempatkan di sel Isolasi (sel dingin). Adapun motif penganiayaan dan pemukulan ini didasari oleh kasus utang piutang antara napi (korban) dengan pelaku (Petugas LP), yang mana pada beberapa waktu yang lalu korban ada memiliki utang sebanyak 1 juta dan satu unit HP merek nokia yang kisaran harganya seratus ribu rupiah,” jelasnya.

Lanjutnya, utang piutang itu, sebelumnya korban telah melunasi dengan membayar utangnya sebesar 1 juta kepada HZ dan mengembalikan 1 unit HP tersebut. Namun HZ tidak menganggap utang tersebut lunas, dan meminta pada korban harus membayar hutang itu sebesar Rp 2 juta.

“Pelaku juga meminta bayar bunganya dan mengganti HP merek Nokia tersebut dengan 1 unit HP merek Blackberry, dan ini juga yang membuat korban keberatan merasa utang sudah dilunasi, sehingga korban mengalami penganiayaan siang dan malam,” imbuhnya.

Tindakan kekerasan dan penganiayaan tersebut, katanya, telah melanggar Undang-Undang 12 Tahun 1995, Tentang Permasyarakatan yakni sebagai mana termuat dalam Pasal 46 dan 47 mengenai tanggung jawab Kalapas dan mengenai hukuman disiplin terhadap napi dan mengangkangi Hak Asasi Manusia (HAM) sebagaimana tertuang dalam UU 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia dan UU No. 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International Covenant On Civil And Political Rights.

Kemudian penganiayaan yang dilakukan oleh Petugas Pemasyarakatan LP Meulaboh tersebut juga bertentangan dengan UU No.5 Tahun 1998 tentang Konvensi Menentang Penyiksaan Dan Perlakuan Atau Penghukuman Lain Yang Kejam, Tidak Manusiawi, Atau Merendahkan Martabat Manusia.

“Oleh karena itu kami memina pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut dan mendesak Kementerian Hukum dan (HAM) dan Dirjen PAS untuk memberikan dan menjatuhkan sanksi yang tegas terhadap pelaku,” tutupnya.(mr/nol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*