Pabasko Masuk Wilayah Luak Agam, Bukan Tanah Datar

Datuak Tongga.

Datuak Tongga.

Advertisements

Padangpanjang, PADANGTODAY.com-Mengacu pada sejarah peradaban Minangkabau, Padangpanjang, Batipuh dan X Koto merupakan bagian dari wilayah Luhak Agam. Hal itu diungkapkan mantan dosen Akademi Seni Karawitan Indonesia (ISI sekarang) Datuk Tongga, Minggu (26/4) kemarin siang.

Tepatnya menurut sejarah, negeri Andalas ini dibagi menjadi tiga luhak oleh Datuk Parpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketumangguangan berdasarkan posisi Gunung Marapi. Dimana menurut sejarah yang ditulis dengan huruf arab gundul tersebut, Luhak Agam mencakup daerah-daerah yang berada di lereng Gunung Marapai arah matahari terbenam. sedangkan Luhak Limopuluah dan Tanahdatar adalah daerah yang berada pada lereng gunung arah matahari terbit.

“Sesuai dengan sejarah tersebut, maka Pabasko ini jalas merupakan bagian dari Luhak Agam. Sejarah itu kemudian dalam penelitian saya, juga diperkuat dengan adanya Kubu sebagai nama daerah. Cuma ada di Kabupaten Agam dan Batipuh, karena secara historisnya bagian dari Luhak Agam,” ungkap Datuk sembari menyebut Pabasko merupakan Agam juga didukung tiga pangulu Kenagarian Gunung.
Satu Keluarga.

Datuk Tonggo juga menyebutkan bahwa masyarakat Pabasko merupakan satu kesatuan atau badunsanak yang semestinya tidak terbelah atau terpisahkan. Hal itu disebutkan juga dikuatkan sejarah tentang bermulanya keramaian Padangpanjang sebagai daerah pemukiman yang berawal dari terjadinya perpindahan pasar Bak Aia Bukitsurungan ke Pasar Usang.

Menurut sejarah betulisan arab yang dibacanya, perpindahan pasar disepakati setelah perdamaian atas peristiwa perkelahian antara kaum IV Koto dengan V Koto terkait jual beli. Perselisihan itu berujung damai atas prakarsa Tuanku Pamansiangan dari Kotolaweh dengan Tuanku Puncak Pauh dari Jao, dan lahir kesepatakan pemindahan lokasi perdagangan atau pasar tersebut ke padang nan panjang antara bukik kapanehan (Bukitsurungan) dan janjang 100 (Silaingbawah).

Pada tahun 1814, dihadiri ninik mamak IX Koto disebutkan perdamaian berhasil yang ditutup dengan sholat Jumat berjamaah di lapangan tempat berdirinya bangunan perguruan Diniyah saat ini. Kesepakatan saat itu dituliskan, pasar dipindahkan ke padang nan panjang (lokasi STAI) Pasar Usang. Dan pada tahun 1903, pasar dipindahkan ke Pasar Baru lokasi sekarang dikarenakan pertumbuhan peradaban dan kepadatan penduduk.

“Atas dasar ini, Padangpanjang adalah Batipuh dan X Koto yang tak dan tak bukan merupakan satu keluarga besar. Hanya saja terpisahkan karena adanya SK Belanda 1 Desember 1956 yang menyatakan Padangpanjang menjadi negeri sendiri setelah menyandang status Kota Praja pada 23 Maret,” pungkas Datuk. (nto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*