Pacu Jawi, Alek Nagari Luak Limopuluah di Payobasuang, Senin di Nan Kodok

PACU JAWI PAYAKUMBUH

Pacu Jawi Payakumbuh, Peserta dai Tanag Datar ikut serta.

Pacu Jawi Payakumbuh

Pacu Jawi Payakumbuh

Payakumbuh, PADANGTODAY.com-Pacu Jawi, yang khas alek nagari Payobasuang Kota Payakumbuh, Selasa (3/3) berlangsung meriah. Pacu Jawi ini memiliki kekhasan dengan olahraga atraksi serupa di nusantara, joki pacu jawi ikut berlari.

Panitia mencoba membandingkan kekhasannya dengan mengundang pemilik dan peserta pacu jawi di Tanah Datar. Harapannya agar terjadi suguhan atraksi yang berbeda. Ya, suguhan itu menarik hati masyarakat yang menyaksikan.

Pacu jawi di Luhak Limo Puluah; Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota ini   sudah berlangsung sejak nenek moyang hingga kini tradisi unik ini masih dipertahankan. Biasanya Alek Nagari Pacu Jawi ini dilaksanakan setelah usai panen padi di sawah. Hiburan melepas lelah serta rasa syukur atas kelimpahan hasil panen padi.

Pacu Jawi di Payakumbuh termasuk unik. Dilaksanakan di area persawahan basah yang siap untuk ditanami padi. Kondisi lahan lebih gembur dan subur, karena kotoran sapi peserta pacu jawi ikut menggemburkan.

Jarak tempuh Pacu Jawi dari garis start hingga finis mencapai 120 meter. Jawi peserta dibawa ke garis finis oleh pemilik selanjutnya diserahkan ke joki pacu. Sang joki tidak duduk di atas punggung jawi, layaknya pacuan kuda, namun berdiri di belakang jawi sambil memegang bajak dari bahan bambu kecil dan sekaligus sebagai tali kendali.

Hebatnya, sang joki ikut berlari di lumpur bersama Jawi yang mereka pacu. Kategori Pacu Jawi Luhak Limopuluh ini terdiri dari empat tingkatan, yakni kelas tiga untuk jawi pemula       pemenang Jawi kelas tiga selanjutnya naik ke kelas dua dan selanjutnya kembali diadu         pemuncak kelas dua. Lalu, kembali diadu lagi dan pemenangnya berhasil masuk kelas satu.

Terakhir, kelas Boko atau kelas Bebas. Di kelas ini biasanya diikuti Jawi-Jawi jawara dan pemenang pada kelas ini berhak mendapat hadiah utama. Kambing dan hadiah lainnya.

Menurut Ishardi ia berharap dengan adanya penampilan dua atraksi pacu jawi dari daerah yang berbeda di Sumatera Barat ini bisa membuka perhatian pemerintah daerah agar memperhatikan budaya daerah yang bisa dijual untuk meningkatkan arus kunjungan wisata.

Ishardi juga menyatakan selama ini atraksi pacu jawi ini tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah daerah sehingga atraksi kebudayaan ini hanya disaksikan warga sendiri. Betul-betul alek nagari.

Dalam kegiatan pacu jawi ini tidak jarang para pemilik jawi aduan melibatkan anak-anak mereka untuk ikut ambil bagian biasanya anak-anak ini ikut membantu memegang bajak saat jawi digiring menuju garis start.

Mereka juga terlihat senang membantu orang tuanya seperti  Alan, siswa kelas 6 Sekolah Dasar, ia mengaku senang  diajak orang tuanya ikut pada acara pacu jawi ini.

Menurut Ketua Panitia pacu jawi, Ishardi, kebiasaan para orang tua mengajak anak-anak mereka terlibat dalam acara pacu jawi selain sebagai hiburan untuk mereka juga sebagai ajang transfer pengetahuan dan kebudayaan yang sudah digeluti nenek moyang Minangkabau.

Dalam kepanitian alek nagari pacu jawi ini, Ishardi juga sengaja melibatkan anak-anak muda dari daerah payobasung setingkat SLTA sebagai upaya menanamkan kecintaan generasi muda pada tradisi.

Pacu jawi mangambang alek anak nagari Luak Limopuluah segera akan dikemas dan disaksikan beramai ramai di Sawah Pacu Nankodok Tigo Koto di Baruah Payakumbuh Utara 9 sampai 10 Maret 2015 jam 14.00 WIB hingga 18.00 WIB.(Dodi Syahputra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*