Para Pejuang Kemerdekaan di Usia Senja Dalam Memperjuangkan Kehidupan

Syahril SK Salah satu
Pejuang Kemerdekaan

Advertisements

Padang-today.com__Banyak nasib para pejuang kemerdekaan tak beruntung di usia senja. Boro-boro menikmati hari tua, mereka justru masih terbelenggu dalam kemiskinan dan kesulitan hidup. Jasa mereka besar untuk negeri ini, namun seolah semua itu terlupakan.

Sebut saja Syahril SK (82) contohnya. Dia adalah seorang pejuang sejati, mantan anggota Tentara Pelajar. Bagi kakek kelahiran Toboh Kampung Dalam ini, hidup haruslah bermanfaat bagi orang lain. Jika dulu dia berjuang untuk kebebasan Negara Republik Indonesia dari penjajah, sekarang dia pun tetap konsisten berjuang demi kepentingan masyarakat banyak.

Tahun 1944, ketika masih duduk di bangku setara dengan  Sekolah Menengah Pertama (SMP) mulai turun ke medan juang. Pada tahun 1945, Dia menjadi bagian dari perang kemerdekaan di Pariaman atau lebih dikenal dengan PRRI Sampai 1949.

“Senjatanya ya seadanya, senjata laras panjang yang masih manual, bambu runcing, parang, sabik, tombak dan lain-lain. Semangat kita cuma satu, mengusir penjajahan di daerah kita,” ujar Syahril saat ditemui www.padang-today.com, di kediamannya di Sungai Limau, Kamis 16-08-2018.

Waktu itu Menek Syahril panggilan akrabnya bergabung dalam tentara pelajar. Setelah kemerdekaan diraih, ia bergabung menjadi Polisi Republik Indonesia 1950 di Pariaman dan berakir tahun 1989 dengan pangkat Sersan Mayor.

Pengalaman menjadi Polisi yang sering berpindah tugas, membuat Halimah istrinya tidak mengeluh. Sehingga ia dikaruniai tiga orang perempuan dan lima orang anak laki-laki.  Tahun 1989, Menek Syahril keluar dari kesatuan Polisi Republik Indonesia. Ia pun kembali ke masyarakat. Namun  di usia senja, Menek Syahril menerima pensiunan dengan hidup sederhana atau pas – pas an dalam memperjuangkan kehidupan.

“Uang pensiun yang saya dapati saat ini cukup untuk buat makan dengan istri saya,” kata dia.

Warung Kopi Syahril SK

Diusia yang senja itu, ia masih kuat dan ulet untuk bergelut pahitnya kehidupan yang dilanda krisis multi dimensi ini. “Apapun akan saya kerjakan demi memperjuangkan kehidupan rumah tangga saya dijalan yang diridhoi Allah. Miskipun krisis kepercayaan sungguh mengkhawatirkan kehidupan di era saat ini, tapi saya yakin dan percaya suatu saat akan timbul terang setelah gelap,” terangnya.

Disebuah warung kopi yang berukuran 10 X 12 itu, ia mempertahankan kehidupanya setelah rumahnya digoncang gempa tahun 2009 lalu membuat ia tidak mampu membangun kembali rumahnya yang rubuh itu. Sehingga ia harus bermukim di warung semi permanen di pinggiran jalan negara.

Diwarung tersebut terpampang sebuah plang merek PEPPABRI cabang Sungai limau. Ia dipercaya oleh teman-temannya untuk memangku jabatan ketua pada wadah tersebut. “Yang penting saya bisa mengabdi, dan berguna bagi orang banyak,” ujarnya.

ketika ia menceritakan kisah perjuangan kemerdekaan, air matanya mulai memerah dan berkaca-kaca. Seakan – akan jangan terulang kembali kisah tersebut pada anak cucu bangsa ini. “Memang tidak mudah untuk merebut kemerdekaan tersebut. Hendaknya bagi penikmat kemerdekaan harus menjaga arti sebuah kemerdekaan itu sendiri,” kata dia dengan bersemangat.

Menek Sayahril menambahkan, disaat terjadinya krisis multi dimensi di negeri ini membuat memudarnya semangat nasionalisme para bangsa. Semua itu dikarenakan oleh kurangnya kepercayaan bangsa terhadap pemimpin kita.  (suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*