Para Veteran Sesalkan Tingkah Laku Generasi Penerus

Padangpanjang, PADANGTODAY.com — Sedikitnya 20-an veteran Kota Padangpanjang yang masih menyaksikan perjalanan bangsa pasca kemerdekaan. Mereka masih menyimpan kepedihan meski telah mencapai tujuan dari perjuangan mengangkat senjata melawan penjajahan.

Hal itu terungkap dari jamuan Walikota Padangpanjang di rumah dinas bersama kalangan veteran dan peserta didik.

Taslamuddin Dt Tungga (83), sebagai salah seorang veteran yang mengikuti perjalanan zaman pasca kemerdekaan mengaku belum puas dengan hasil sampai saat ini. Veteran yang menderita gangguan indera pendengaran sebagai hadiah penjajah atas perannya sebagai penyampai informasi pada zaman penjajahan Jepang dan Belanda, mengkhawatirkan minimnya pengetahuan generasi muda terhadap sejarah bangsa.

Bangkitnya rasa nasionalisme seorang anak bangsa tersebut, laki-laki tua yang akrab disapa Metek tersebut menyebutkan hanya jika mengetahui bagai mana besarnya pengorbanan pejuang melawan penjajahan. Hal itu dikatakannya akan menjadi motivasi bagi generasi untuk menjadi anak bangsa yang berwatak baik dan memiliki rasa nasionalisme serta patriotis.

“Peringatan HUT RI melalui pengibaran bendera Merah Putih memang sarat terhadap makna dan bentuk kita sekarang ini dalam menghargari kemerdekaan. Namun hal ini tidak akan menyentuh sanubari generasi penerus, tentang bagai mana terlahirnya bangsa ini yang harus mereka tetap jaga kesatuan dan persatuan berbangsa itu sendiri,” tutur Metek.

Metek sangat meyakini tidak banyak anak bangsa sekarang ini memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dengan pengorbanan besar demi kemajuan bangsa, meski berpendidikan tinggi. Mencontohkan pada era perjuangan melawan penjajahan, Metek mengaku harus menderita sampai saat ini atas kerusakan indera pendengaran akibat dipukul tentara Belanda ketika masih dalam usia remaja.

“Saat ini pendengaran saya tidak lah sempurna karena dipukul Belanda. Saat itu saya tertangkap dan ditanyai Belanda siapa ini Taslamuddin yang diketahui sebagai pengantar informasi atau kurir pada saat itu. Beruntung saya kembali dilepas karena semua orang memanggil saya dengan sebutan Metek dan tidak nama sebenarnya,” ungkap Metek. (bj)