Pasukan Khusus AS di Suriah Tewaskan Tokoh Senior ISIS Hasilkan Banyak Informasi Soal ISIS

Reuters Pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi di sebuah masjid di kota Mosul, Irak, 5 Juli 2014

Reuters Pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi di sebuah masjid di kota Mosul, Irak, 5 Juli 2014

Advertisements

Washington, PADANGTODAY.COM-Sebuah operasi militer yang dilakukan pasukan khusus AS di Suriah bulan lalu yang menewaskan tokoh senior ISIS menghasilkan banyak informasi soal kepemimpinan dan keuangan ISIS. Demikian laporan harian The New York Times, Selasa (9/6/2015).

Berbagai dokumen yang didapat dalam penggerebekan terhadap Abu Sayyaf pada 16 Mei lalu itu membantu pasukan AS melacak dan menewaskan pemimpin ISIS lainnya di wilayah timur Suriah pada 31 Mei.

Abu Sayyaf diyakini Amerika Serikat sebagai salah satu penyandang dana terbesar kelompok militan yang kini menguasai sebagian wilayah Irak dan Suriah.

Pemerintah AS yakin seorang pimpinan ISIS yang berpengaruh, Abu Hamid, tewas dalam serangan udara pada 31 Mei itu. Namun, sejauh ini ISIS belum memberikan konfirmasi soal nasib Abu Hamid.

Sementara itu, diperkirakan empat hingga tujuh terabytes data diambil dari sejumlah lapotop, telepon genggam dan sumber-sumber data lain yang didapat dalam operasi penggerebekan itu.

Informasi yang diperoleh dari data-data itu termasuk bagaimana cara pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi menghindari pemantauan yang dilakukan koalisi pimpinan AS.

Saat Al-Baghdadi menghadiri pertemuan pemimpin regional ISIS di markas besarnya di kota Raqqa, Suriah, setiap anggota yang hadir harus meninggalkan telepon genggam mereka di mobil agar lokasi pertemuan tak terlacak mata-mata Barat.

Sejauh ini, badan-badan intelijen AS belum memberikan komentar terhadap laporan The New York Times ini.

Namun, seorang petinggi militer AS kepada harian itu mengatakan setidaknya seorang informan di dalam tubuh ISIS berperan penting dalam melacak Abu Sayyaf sebelum operasi penggerebekan digelar.

Para pejabat AS yakin Abu Sayyaf terlibat dalam berbagai penculikan, penyelundupan minyak mentah dan mencari dana untuk pembiayaan operasi ISIS.

Berdasarkan data yang ditemukan itu terungkap bahwa sekitar separuh dari keuntungan penyelundupan minyak mentah digunakan untuk membiayai operasi ISIS sementara sisanya dibagi-bagi antara lain untuk memelihara fasiltas produksi minyak dan membayar para pekerja.

Para pekerja di lokasi-lokasi produksi minyak mentah ini adalah karyawan yang digaji ISIS dan bukan warga lokal yang dipaksa seperti yang selama ini diyakini.

Dari informasi yang diperoleh itu menunjukkan bahwa salah seorang tokoh bernama Fadel al-Hayali alias Abu Mutaz kemungkinan memainkan peranan besar dalam organisasi ISIS lebih dari yang sebelumnya diperkirakan.

(AFP/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*