PAYAKUMBUH HARUS TERUS MELANGKAH MAJU

Ditulis oleh: Riza Falepi,ST,MT

Walikota Payakumbuh Riza Falepi, ST, MT.

Walikota Payakumbuh Riza Falepi, ST, MT.

Senja ini, matahari 2014 bakal terbenam meninggalkan kita. Mentari 2015 akan datang esok pagi. Tak terasa, sudah dua tahun pula, kami bersama rakyat Payakumbuh bekerja membangun dengan segala persoalan serta suka-dukanya.

Dua tahun bagi seorang kepala daerah, memang belum terlalu banyak yang bisa dihasilkan. Tapi bukan berarti terlalu sedikit untuk tidak melakukan refleksi, kontemplasi dan evaluasi. Tentang apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan.

Apalagi, seiring dengan perubahan kepemimpinan nasional yang memberi kita ruang untuk merevisi RPJMD akibat penyesuaian dengan RPJMN. Dengan keadaan ini, kami melihat ada momentum berhenti sejenak. Merenungkan apa yang telah, sedang dan rencana ke depan.

Terus terang, ketika kami dilantik, pengalaman sebagai kepala daerah nol. Dan hampir sebagian besar kepala daerah, ketika dilantik untuk pertama kalinya punya pengalaman nol.

Tapi ini tentu bukan suatu alasan untuk tidak bekerja. Sebaliknya, sejak dilantik menjadi kepala daerah, kita dituntut menjadi pembelajar cepat. Segera menyelesaikan masalah yang ada.

Satu hal yang menarik bagi kami adalah dialog dengan sejumlah staf Pemko Payakumbuh, sesaat setelah kami dilantik. Para staf itu menyebut bahwa kepala daerah sebelumnya sudah mengerjakan banyak hal, salah satu buktinya berhasil mendapat penghargaan.

Kemudian, para staf tadi, tidak lupa pula mengemukakan sejumlah masalah yang perlu kami bereskan, tapi mungkin penyelesaiannya butuh beberapa tahun.

Seperti, laporan keuangan yang hanya sanggup di level WDP. Ternyata kalau mau WTP, perlu beberapa tahun, mengingat tidak mungkin penyelesaiannya segera dalam satu tahun, terutama mengenai aset.

Mendengar pernyataan dan informasi tersebut, kami sampaikan, bahwa sekarang bukan saatnya lagi kita bicara “Ini Bukan Urusan Kami”. Semua harus diambil sebagai sebuah tanggung jawab.

Kita harus membangun tradisi yang baik, bagaimana perubahan kepala daerah, mampu menata keberlanjutan kerja yang telah baik, memperbaiki yang belum baik dan membangun yang baru.

Kita tidak perlu mengatakan ini dibangun oleh si anu kepala daerahnya. Tapi yang perlu dipikirkan bahwa yang baik harus kita pertahankan. Yang belum kita bangun dengan visi dan misi yang lebih baik, tajam, dan terukur. Tentu ukuran setiap orang berbeda, sehingga biasanya polemik sering terjadi.

Bagi kami, cukup pelajaran kehancuran PT Dirgantara Indonesia atau dulu disebut IPTN menjadikan kita lebih arif dan bijak melihat masalah.

Ketika itu, kita dengan gagah, termasuk sebagian yang merasa reformis, politisi, pengamat ekonomi, bahkan Presiden Gusdur sempat melecehkannya. Ini benar-benar pengalaman berharga, membuat terjadinya “brain drain” dan pencurian “know how” oleh bangsa lain, sehingga pesawat itu mampu dibuat di Brazil.

Kembali kepada dialog kami dengan para staf tadi, tak terasa, ternyata sudah dua tahun berlalu. Alhamdulillah, selama dua tahun itu pula, kami fokus pada layanan dasar, seperti pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.

Semua kami lalui dengan semangat bekerja sesuai target yang sudah disepakati bersama SKPD terkait, serta mencoba berinovasi terhadap beberapa masalah di lapangan agar bisa lebih baik.

Alhamdulillah, penghargaan pun kita raih. Mulai dari kelanjutan kepala daerah sebelumnya, seperti Adipura dan kebersihan kota. Hingga bidang lain yang juga menjadi prioritas kita seperti pendidikan dan pekerjaan umum, mendapat penghargaan juara nasional. Juga Bung Hatta Award, bidang anak dan perempuan, serta pencapaian dalam millenium goals.

Pada bidang investasi, kantor PTSP kita menjadi kantor terbaik nasional, dengan pelayanan investasi yang terukur, transparan dan Insya Allah, bebas dari praktik yang tidak ramah investasi. Kami juga patut bersyukur, tahun lalu, salah satu SMA di Payakumbuh, mampu meluluskan anak-anaknya terbanyak ke perguruan tinggi se-Sumbar.

Pada bidang kesehatan, kami berkeinginan punya rumah sakit yang representatif, sehingga kalau sakit warga Payakumbuh tidak harus buru-buru dioper ke Bukittinggi atau Padang, bisa ditangani di sini.

Juga sebagai kota sehat, kami memulai membangun tradisi preventif terhadap penyakit, terutama bagi yang dicegah dengan gaya hidup yang baik seperti jantung, stroke, diabetes, dan lain-lain.

Kita mulai mengadakan pemeriksaan berkala atau general check up setidaknya untuk yang sederhana, seperti darah di tingkat puskesmas dan pemeriksaan lanjut di rumah sakit.

Kita usahakan ini dibiayai APBD, karena JKN tidak mendukung sisi preventif ini. Harapan kita tentu usia harapan hidup warga Payakumbuh makin baik, warga makin produktif, serta biaya kesehatan berkurang.

Pada bidang pertanian kita, Payakumbuh berhasil meningkatkan produktivitas padi dari 6 ton per ha menjadi 9 ton per ha. Selanjutnya akan kita tingkatkan di atas 10 ton per ha.

Produksi ini juga diiringi perbaikan irigasi yang signifikan, sehingga kita dapat penghargaan ketahanan pangan nasional dan PKPDPU bidang pengairan di samping bidang cipta karya.

Kami berpikir saat ini bagaimana selanjutnya terjadi nilai tambah yang lebih tinggi dalam pertanian dan perkebunan, seperti membuat pabrik cokelat, pabrik pakan, terminal agro untuk mengolah sayur pascapanen, bahkan membuat bibit baru yang unggul seperti “ketimun latina”. Bahkan, sebelumnya sudah dikenal “cabai kopay” yang begitu terkenal dengan produktivitas tinggi.

Target kita adalah memastikan setiap warga produktif, mengurangi pengangguran dan kemiskinan, serta mempertahankan laju pertumbuhan. Kepada setiap staf kami ingatkan, mendukung kegiatan masyarakat dengan target agar mereka lebih produktif.

Selama dua tahun ini telah terlihat hasil yang cukup baik, sehingga laju pertumbuhan ekonomi Payakumbuh sebesar 6,72 persen tahun 2013 dan sebesar 6,89 persen tahun 2014  (perkiraan).

Pertumbuhan ini termasuk tertinggi di Sumbar dan di atas rata rata pertumbuhan ekonomi Sumbar dan nasional. Juga angka kemiskinan turun sekitar 1,19 % dari sebelumnya sekitar 9 % tahun 2012 menjadi 7,81 % tahun 2013.

Semua keberhasilan ini, memang patut kita syukuri dan menjadi pemicu bagi untuk berprestasi lebih lanjut. Walau begitu, kami kami tetap merenungkan dan menimbulkan pertanyaan mendasar, yaitu seberapa besar kita mampu memberikan kemakmuran kepada rakyat Payakumbuh.

Apakah prestasi cukup berkorelasi dengan peningkatan kemakmuran kota?

Secara angka-angka seperti yang kami jelaskan sebelumnya, cukup meyakinkan. Namun, kami melihat ada ‘jebakan’ yang mengarah kepada rutinitas kebanyakan kepala daerah yang bekerja kemudian diapresiasi oleh berbagai pihak.

Kita maju tapi belum menghasilkan lompatan-lompatan yang berujung kepada pertumbuhan yang berkelanjutan, serta penciptaan kemakmuran yang berkelanjutan pula.

Bisakah kita menjawab pertanyaan apakah Payakumbuh mampu membuat kemajuan sama halnya dengan negara lain seperti Swiss, Turki, atau paling tidak seperti Malaysia.

Walaupun hal strategis ini menurut hemat kami juga tugas seorang gubernur, atau bahkan presiden, tapi dari kacamata kami sebagai kepala daerah tentu tidak bisa menunggu, apalagi diam. Tentu perlu dipikirkan untuk memulai ke arah tersebut, walaupun baru pada tahap inisiasi ketika kami sebagai kepala daerah.

Secara teori hal tersebut sangat mungkin, namun tidak mudah merealisasikannya. Setidaknya ada tiga faktor pemicu yang perlu kita lihat yaitu faktor endowmen, sumber daya manusia dan terakhir faktor kepemimpinan itu sendiri.

Tahap awal tentu kepemimpinan harus mampu mentransformasikan faktor endowmen beserta SDM menjadi sumber keunggulan baru. Ini merupakan lompatan awal yang paling realistis. Selanjutnya, tentu harus dimunculkan inovasi-inovasi untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Kami menyadari, apabila kita tidak memulai berpikir strategis seperti ini, kami khawatir 30-50 tahun ke depan Payakumbuh akan begini saja.

Sejak zaman penjajahan Belanda telah ada jembatan ratapan ibu, pasar serikat, dan simpang tigo pasar (sekarang disebut simpang tugu Adipura). Jangan sampai cerita Payakumbuh hanya berhenti di sini saja, bahkan 50 tahun lagi masih seperti itu ceritanya.

Kami rasa kerja tiga tahun ke depan selain mempertahankan prestasi yang ada tentu perlu untuk memastikan munculnya sebuah pola pertumbuhan yang berkelanjutan. Sehingga, tercipta kemakmuran bersama dan pertumbuhan yang berkesinambungan.

Inisiasi ini bisa dilanjutkan oleh kepemimpinan berikutnya. Harapan kami tentu tidak muluk, semoga ke depan lahir juga pemimpin yang baik di Payakumbuh, bak kecek urang awak, “kok indak manambah jan mangurangi”.

Bahasa Al Quran, pemimpin yang hafidz dan alim. Hafidz memiliki kemampuan memelihara segala sesuatu yang telah dicapai, alim tentu kita harapkan yang tahu atau berpengetahuan untuk memimpin.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*