Pemko Pariaman Sulap Talao Menjadi Wisata Air

Kota Pariaman– Pemerintah Kota Pariaman menyulap Talao atau Rawa Di Desa Pauh, Kecamatan Pariaman Tengah menjadi Waterfront city sebagai Destinasi Wisata Baru di daerah itu.

Talao yang sebelumnya sangat ditakuti oleh warga untuk mengunjunginya, saat ini sudah menjadi Destinasi Wisata Baru di Kota Pariaman.

Dalam pengembangan sarana dan prasarana kawasan pariwisata terpadu dengan konsep Kota Tepian Sungai atau ‘waterfront city’ pemerintah di daerah itu medapat kucuran dana dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebesar Rp8,3 miliar.

Tepatnya pada hari ini, Kamis 05 Maret 2020 Kementerian PUPR RI melalui Balai Sarana dan Prasarana Cipta Karya Provinsi Sumatera Barat meyerahkan pembangunan waterfrontcity tersebut kepada pemerintah Kota Pariaman.

Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sumatra Barat Syafrianti, meyebutkan pada tahun 2019 lalu Balai Sarana dan Prasarana Cipta Karya Sumbar telah melakukan pengerjaan sarana prasarana waterfront city itu dalam waktu kurang lebih satu tahun.

“Pengerjaan itu sudah dimulai sejak pertengahan tahun 2019, dan ditargetkan akan tuntas pada Desember 2020 lalu. Artinya, pengerjaan sarana prasarana waterfrontcity selesai dikerjakan dalam waktu kurang lebih satu bulan. Syukur Alhamdulillah, tepatnya pada hari ini, kami telah menyerahkan kepada pemerintah Kota Pariaman dalam kelanjutan pembangunan Kota Tepian Sungai tersebut,” kata Syafrianti yang akrab disapa Bundo.

Menurutnya, waterfroncity suatu program yang dapat dirasakan oleh masyarakat langsung dari azaz manfaatnya. Ia berharap, pihak pemerintah setempat dapat mengelola dengan maksimal agar azaz manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.  Selain itu, dampak sosial dari keberadaan waterfrontcity tidak betentangan dengan visi dan misi Kota Pariaman sebagai Pariaman Kota Wisata, Perdagangan, Jasa yang Relegius dan Berbudaya.

“jangan samapi keberadaan waterfroncity menodai visi dan misi Kota Pariaman dilihat dari dampak sosialnya,” kata dia.

Ia menegaskan, program lanjutan waterfrontcity, pihak Pemko Pariaman harus dapat segera membuat regulasi, market dan pembebasan lahan untuk pembangunan waterfroncity tersebut.

Walikota Pariaman Genius Umar menyebutkan perencanaan dan pengembangan waterfroncity di daerah itu mempunyai tujuan utama untuk merevitalisasi sungai dan bibir pantai guna memperbaiki kehidupan masyarakat dengan menata bibir pantai dan sungai untuk pegembangan pariwisata.

Dengan hadirnya waterfrontcity itu, ia berharap Pariaman bisa menjadi percontohan nasional untuk pembangunan kota tepi air seiring dengan gencarnya pembangunan yang dilakukan Pemkot setempat.

Untuk pembangunan waterfroncity itu, pihaknya telah menyediakan lahan sekitar 5 hektare di Desa Pauah itu sendiri. Dengan lahan 5 hektare itu, Tatanan Kota akan dihadapkan ke air dengan menjadikan sungai dan bibir pantai sudah dijadikan sebagai taman wisata. Begitu juga dengan sungai.

Dirinya mengatakan fasilitas lainya yang akan disediakan dalam konsep water front city di antara lintasan jogging (jogging track) sepanjang aliran sungai, taman tematik, hutan mangrove hingga spot khusus untuk pelaku Usaha Mikro dan Menegah (UMKM).

“Tidak tertutup kemungkinan lahannya akan bertambah. Artinya, daerah-daerah yang ada di Kota Pariaman yang memiliki aliran sungai akan di masukan ke konsep water front city. Kemudian, pemkot akan menghadirkan taman ditengah kota (City in The Garden),” kata Genius usai serah terima pengelolaan sementara dari Kementerian PUPR ke pihak pemerintah dalam pembangunan water front city tersebut.

Untuk mewujudkan pembangunan water front city tersebut, Pemkot Pariaman telah menyusun perencanaa menyeluruh terhadap sungai besar itu yakni Sungai Batang Piaman, Sungai Batang Mangor dan Sungai Batang Manggung.

Terkait dengan penyerahan pengelolaan sementara kepada pihak Pemkot Pariaman, pihaknya telah menyiapkan regulasi, sistim dan prosedur untuk pengelolaan serta pembiayaan pembangunan water front city tersebut.

Ia berharap dalam pegelolaan sementara pembangunan waterfront city itu akan berupaya megusulkan anggara sebesar Rp16 milyar ke pihak pemerintah pusat, agar terwujudnya pemabangunan water front city di Kota Pariaman.

“Untuk pembangunan water fron city ini, sudah mencapai Rp15 miliar, dana itu berasal dari berbagai sumber mulai dari APBD, APBN hingga pertanggungjawaban sosial atau CSR perusahaan BUMN,” kata dia.

Besaran anggaran dari masing-masing sumber tersebut yaitu, APBN sekitar Rp9 miliar, PLN Rp400 juta, kemudian tahun ini dari APBD senilai 1,5 miliar. Pembangunan water front city itu sudah dimulai sejak dua tahun lalu hingga sekarang, dan sudah menampakan azaz manfaatnya bagi masyarakat. (SgR)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas