Peringati Hari Tani, Petani Gelar Aksi Turun Jalan

hari-tani-petaniJatim, PADANGTODAY.com – Ratusan petani dari beberapa elemen tersebut menuntut pelaksanaan reformasi agraria dan kedaulatan pangan untuk kemandirian bangsa. Peringati Hari Tani Nasional ke 54, para petani yang tergabung dalam Aliansi Petani Jawa Timur menggelar aksi turun jalan di depan Gedung Grahadi Surabaya, Jalan Gubernur Suryo, Rabu siang (24/9).

Sebelum menggelar aksi, para demonstran melakukan longmarch dari Balai Pemuda Surabaya menuju Gedung Grahadi. Akibatnya, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya mengalami kepadatan luar biasa. Sedangkan pihak kepolisian yang melakukan pengawalan sebagian mengatur arus lalu lintas di sekitar Gedung Grahadi.

Dalam orasinya, para petani mengajak seluruh komponen masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap neoliberalisasi di sektor pertanian.

“Kita meminta agar pemerintah segera melaksanakan reformasi agraria sejati sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960, tentang pokok agraria,” teriak salah satu orator aksi.

Menurut mereka, lahirnya Hari Tani adalah salah satu upaya menjawab amanat konstitusi UUD 45, tepatnya Pasal 33 ayat (3), yang menyatakan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

“Namun, saat ini, Indonesia tak ubahnya bagai lumbung kosong belaka. Bayangkan, negara agraris seperti Indonesia, tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan pangan dalam negerinya. Kesejahteraan kaum petani mulai jauh panggang dari api, pun begitu dengan cita-cita mensejahterakan seluruh elemen masyarakat,” papar sang orator lagi dalam orasinya.

Sementara koordinator Kobar Jawa Timur yang ikut bergabung dalam aksi itu, Vabianus Hendrix menambahkan, upaya sistemik dalam kebijakan agraria di Indonesia, dimulai pasca-berdirinya Orde Baru yang begitu akrab dengan kapitalisme global.

“Arah kebijakan di sektor pertanian hanyalah langkah manis di awal, yang kemudian justru mengalihkan penggunaan lahan pertanian ke arah industrialisasi ekonomi,” papar Vabianus.

Lepas dari cengkraman Orde Baru, lanjut dia, Indonesia masih belum bisa melepaskan diri dari hegemoni arus besar kebijakan asing yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi Indonesia ke arah industri dibanding ke sektor pertanian.

“Ingat, dalam UUD 45 sudah jelas, bumi, air dan kekayaan alam dipergunakan untuk kemakmuran rakyat, namun pelaksanaannya, kekayaan alam Indonesia tidak dipergunakan untuk mensejahterakan rakyat,” tegas dia.

Selanjutnya, setelah puas berorasi, sekitar pukul 12.30 WIB, para petani membubarkan diri. Namun, dampak kemacetan di Jalan Gubernur Suryo masih berlangsung, dan baru bisa kembali normal sekitar pukul 13.00 WIB.(mr/nol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*