Perpustakaan Nagari Saok Laweh Solok Raih Juara Nasional

SOLOK – Perpustakaan Nagari Saok Laweh, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumbar berhasil menjadi juara nasional. Pada perhelatan dan malam anugerah yang berlangsung di Integrity Convention Center, Jakarta, Kamis malam (6/9), Perpustakaan Nagari Saok Laweh berhasil menjadi yang terbaik dari perwakilan 34 provinsi se-Indonesia. Hal ini menjadi sejarah bagi Kabupaten Solok dan Sumbar, khususnya Nagari Saok Laweh, karena ini pertama kalinya.

Advertisements

Para perantau Minang dan perantau Nagari Saok Laweh turut menghadiri Malam Anugerah Perpustakaan Terbaik Tingkat Nasional di Integrity Convention Center, Jakarta, Kamis malam (6/9).

Sekretaris Daerah Kabupaten Solok Aswirman, Anggota DPRD Kabupaten Solok Hidayat, Walinagari Erwin, yang hadir di malam penganugerahan tersebut mengaku sangat bangga dengan prestasi ini. Aswirman menyatakan raihan ini membuktikan bahwa kerja keras sejak 2017 tersebut telah membuahkan hasil yang manis. Aswirman juga menegaskan Pemkab Solok mengapresiasi dan berterima kasih kepada kepala perpustakaan, pegawai, kader dan para pembina seperti Anggota DPRD Kabupaten Solok asal Saok Laweh, Hidayat.

“Ini merupakan kerja keras dan kerja sama seluruh pihak. Tapi yang paling terutama tentu saja para pegawai dan kader perpustakaan Nagari Saok Laweh. Terima kasih telah meengharumkan nama Kabupaten Solok di tingkat nasional,” ungkapnya.

Kepala Perpustakaan Nagari Saok Laweh Edwar Chandra (tengah) saat menerima penghargaan pada Malam Anugerah Perpustakaan Terbaik Tingkat Nasional di Integrity Convention Center, Jakarta, Kamis malam (6/9).

Aswirman juga menyatakan sebelumnya Pemkab Solok tahun 2017 telah mendapatkan penghargaan dari perpustakaan nasional RI dengan menerima penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka yang diterima oleh Bupati Solok Gusmal. Untuk tahun ini dilanjutkan program Gerakan Nagari Membaca yang dijadikan percontohan sebanyak 10 nagari di Kabupaten Solok. Perpustakaan Nagari Saok Laweh kemudian mewakili Kabupaten Solok di tingkat Sumbar. Kemudian, menjadi yang terbaik di tingkat Sumbar dan berhak berlaga di tingkat nasional.

“Perpustakaan Saok Laweh secara umum telah memenuhi 12 kriteria yang menjadi tolok ukur penilaian. Beberapa di antaranya organisasi, gedung, sarana prasarana, tenaga kerja, operasional perpustakaan, tingkat kunjungan, implementasi di lapangan, kerja sama pihak ketiga, dan yang utama adalah dampak perpustakaan pada perekonomian masyarakat sekitar. Saat ini, perpustakaan Saok Laweh mampu memberikan manfaat besar bagi warga sekitar, tidak hanya pada perekonomian namun juga pada pendidikan dan kesehatan masyarakat,” ujarnya.

Kepala Perpustakaan Nagari Saok Laweh Edwar Chandra (kiri) bersama Anggota DPRD Kabupaten Solok, Hidayat, saat menerima penghargaan pada Malam Anugerah Perpustakaan Terbaik Tingkat Nasional di Integrity Convention Center, Jakarta, Kamis malam (6/9).

Anggota DPRD Kabupaten Solok Hidayat menyatakan keberhasilan Perpustakaan Nagari Saok Laweh ini menjadi angin segar bagi masyarakat Nagari Saok Laweh ke depannya. Salah satunya, dengan tampil sebagai juara naaional, Perpustakaan tersebut dan Nagari Saok Laweh akan menjadi daerah tujuan studi banding bagi perpustakaan dan pemerintah daerah di Sumbar dan provinsi lainnya. Karena itu, legislator asal Partai NasDem tersebut menyatakan pemerintah nagari dan masyarakat harus bersiap diri menyambut tamu. Terutama dalam pembenahan infrastruktur dan keramahan menerima tamu dan kolega.

“Ini adalah angin segar bagi Nagari Saok Laweh, Kecamatan Kubung dan Kabupaten Solok. Ke depannya, mari kita sambut tamu yang datang dengan sebaik mungkin. Terutama dengan berbagai peluang yang tercipta dengan status juara nasional ini. Berbagai potensi seperti pariwisata, ekonomi kerakyatan, industri rumah tangga, dan potensi lain, harus kita maksimalkan,” tegasnya.

Kepala Perpustakaan Nagari Saok Laweh Edwar Chandra (kanan) bersama Walinagari Saok Laweh Erwin Saputra saat menerima penghargaan pada Malam Anugerah Perpustakaan Terbaik Tingkat Nasional di Integrity Convention Center, Jakarta, Kamis malam (6/9).

Ketua Perpustakaan Nagari Saok Laweh, Edwar Chandra menyebutkan Perpustakaan Nagari Saok Laweh sebelumnya berawal dari gerakan yang dilakukan oleh Yayasan Gemar Membaca Indonesia (Yagemi) dengan program buku masuk rumah. Program ini kemudian dilanjutkan Pemkab Solok melalui program gemar membaca. Pada 2016 perpustakaan Nagari Saok Laweh mendapatkan bantuan sebanyak 1.000 buku yang disumbangkan oleh pihak ketiga yaitu PT Taspen.

“Bantuan buku ini kita salurkan ke rumah-rumah penduduk agar buku tersebut dapat dibaca oleh masyarakat yang dilaksanakan oleh kader dan relawan,” katanya.

Edwar menjelaskan teknis pendistribusian buku tersebut dimasukkan dalam kantong plastik sebanyak 5 buku, terdiri dari buku bacaan untuk bapak satu, ibu satu dan tiga buku untuk anak-anak. Setelah 15 hari buku tersebut dijemput oleh relawan ke rumah warga dan diganti dengan buku yang baru.

“Alhamdulilah pada 2018 gerakan gemar membaca dengan sistem tersebut telah bisa dinikmati empat jorong di Nagari Saok Laweh dan kader relawan sudah bertambah,” katanya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumatera Barat, Alwis mengatakan, Program Buku Bergilir Perpustakaan yang ada di Nagari Saok Laweh Kecamatan Kubung Kabupaten Solok, layak menjadi percontohan tingkat nasional. Menurutnya, hal tersebut dikarenakan program buku bergilir perpustakaan di daerah tersebut, dinilai dapat meningkatkan budaya literasi masyarakat lebih terukur dan tepat sasaran.

Alwis menyebutkan program tersebut mampu memetakan jenis buku yang disukai masyarakat dan mengantarkan buku tersebut ke alamat.

“Hal tersebut sebagai upaya meningkatkan budaya literasi masyarakat Sumbar agar memiliki sumber daya manusia yang unggul,” katanya.

Menurutnya, program buku bergulir itu mampu mengubah stigma perpustakaan yang selama ini pasif, hanya menunggu masyarakat untuk datang dan membaca buku menjadi lebih aktif dengan langsung mendatangi rumah masyarakat.

Alwis menjelaskan, dalam menjalankan program tersebut, setiap masing-masing rumah dipinjamkan lima buah buku untuk dibaca. Setelah lima belas hari, buku itu dijemput kembali dan digulirkan ke rumah yang lain.

“Jadi begitulah yang kita maksudkan bergulir. Buku itu tidak dipinjamkan secara sembarangan, tetapi telah melewati proses pemetaan minat dan keinginan masyarakat. Artinya, buku yang dipinjamkan disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan,” ujarnya.

Ketentuan untuk mendapatkan buku itu, kata Alwis, apabila orang di rumah itu adalah pedagang dan membutuhkan buku-buku yang berkaitan dengan perdagangan atau ekonomi, perpustakaan akan mengantarkan buku tersebut. Akan tetapi, apabila pemilik rumah adalah petani maka buku yang diantarkan disesuaikan, misalnya tentang teknologi pertanian atau peluang pasar untuk produk-produk pertanian.

“Artinya dengan demikian buku yang dipinjamkan tidak hanya sekadar menjadi bacaan tetapi juga bisa menambah ilmu dan pengetahuan bagi masyarakat serta menunjang profesinya,” jelasnya.

Alwis menyatakan, dengan adanya skema yang demikian diyakini tidak hanya akan meningkatkan budaya literasi masyarakat, tetapi secara nyata meningkatkan sumber daya manusia sesuai profesi yang ditekuni.

“Tentunya kita berharap kegiatan membaca akan menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat,” ucapnya. (rijal islamy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*