Potensi Besar Sapi Perah Gerbang Swasembada Susu

Padangpanjang, Padangtoday—Kota Padangpanjang yang berjuluk SerambiMekkah, selain disebut merupakan sentra penyamakan kulit juga dikenalsebagai daerah produsen susu segar yang dihasilkan dari 9 kelompok tani (keltan) sapi perah.

Advertisements

Sedikitnya 416 ekor sapi perah jenis FH terkelola dengan baik secara menyebar pada 9 keltan yang dibina langsung Pemerintah Kota (Pemko) Padangpanjang melalui Dinas Pertaninan (Distan). Meskihanya 180 ekor sapi yang dapat memproduksi susu perah (laktasi), setidaknya telah mampu menghasilkan hingga 1.300 liter setiap harinya.

Jumlah produksi susu perah diperkirakan bakal mencapai angka tertinggi pada pertengahan tahun ini hingga 3 ribu liter perharinya. Hal ini melihat jumlah sapi yang akan melahirkan hingga Maret mendatang tercatat sebanyak 40 ekor. Salah satunya seperti Keltan Makmur Batu Batirai, dengan hanya hasil perahan 3 dari 17 ekor sapi yang ada, mampu memproduksi susu segar sedikitnya 45 liter perhari.

“Diperkirakan sekitar Mei-Junimendatang, kami bisa memproduksi susu mencapai 150 liter perhari dengan kondisi 12 ekor sapi lainnya yang saatini tengah bunting 5 bulan,” ungkap Amjaz yang bekerja mengkoordinir sebanyak 25 anggota keltan tersebut.

Potensi besar produksi susu segar sapi perah juga disampaikan Ketua Keltan Lembu Alam Serambi, Agus, sangat baik dan produktif. Bahkan dikatakannya, sebanyak 8 ekor sapi yang saatini dalam keadaan laktasi mampu menghasilkan sedikitnya 160 liter perhari dengan rata-rata produksi perekorsapi mampumen capai 30 liter perhari.

Meski secara kuantitas dan kualitas susu segar sapiperah di Padangpanjang sangat baik, namun dikatakannya belum terkelola maksimal jika bicara profit oriented. Pemerintah dalam hal pengelolaan keltan melalui dinas terkait, dikatakannya sudah sangat konsisten sehingga setiap keltan telah mampu berdiri baik.

Namun dengan kondisi terbalik, keberhasilan produktivitas keltan sapi perah di Padangpanjang, justru lebih menggemukkan para pelaku usaha industri susu di kota tetangga seperti Padang dan Pekanbaru. Hal ini dikatakannya pelaku usaha sapi perah di Padangpanjang, masih memasarkan dalam bentuk susu segar.

“Dengan kondisi kuantitas produksi seluruh keltan yang ada mencapai 1.000 liter perhari susu segar dan dibeli dengan harga terendah Rp7 ribu perliter, setahun dapat diraup petani sekitar Rp2,5miliar. Akan lebih baik lagi jika petani dapat memproduksi susu yang telah melewati pasteurisasi, karena harga jualnya bisa mencapai Rp12 ribu perliternya,” tuturAgus.

Agus mengimpikan Kota Padangpanjang memiliki Unit Pelayanan Tekhnis (UPT) pasteurisasi susu segar, sehingga nilai jual yang didapatkan para petani sapi perah lebih besar. Hal ini sangat berkaitan dengan kemampuan keltan untuk mengembangkan usaha pertanian lebih besarlagi, karena tuntutan kebutuhan biaya juga akan meningkat jika dilakukan penambahan jumlah sapi.

“Mimpi sekaligus harapan kami sebagai pelaku usaha pertanian sapi perah, yakni memiliki tempat pasteurisasi serta ketersediaan lahan rumput.Kalau pun saat ini Rumah Susu sudah dapat melakukan pasteurisasi, namun untuk menampung seluruh produksi keltan belum mampu,” pungkas Agus.(nto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*