“Semoga saja kedatangan saya dan rombongan dari Jakarta membawa berkah untuk kemajuan ISI Padang Panjang, Sumatera Barat dan bangsa kita keseluruhannya,” tambah Puan sembari dia mengkhawatirkan, bahwa sekarang ini bahaya globalisasi dan liberalisasi serius menggerus nilai-nilai luhur bangsa. Ia mengatakan, ada produk budaya asing yang mengeksploitasi kemanusiaan, bermuatan pornografi, demoralisasi dan dekonstruksi sosial.

Menurutnya, Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang dicanangkan pemerintahan Presiden Joko Widodo merupakan salah satu upaya untuk menangkal gempuran globalisasi dan liberalisasi yang membawa ekses negatif. Karenanya, Puan mengharapkan ISI Padang Panjang menghasilkan pribadi-pribadi berkarakter di bidang seni dan budaya.

“Proses pendidikan harus selaras dalam membentuk kualitas pribadi dan warga negara yang berkarakter,” katanya. Harapannya, ISI Padang Panjang bisa menjadi pelopor GNRM di bidang seni dan budaya. “Saya harapkan ISI Padang Panjang menjadi kampus yang terdepan dalam melaksanakan Revolusi Mental, dengan mewujudkan kampus ISI sebagai kampus yang mengembangkan seni yang membangun dan memuliakan martabat kemanusiaan,” katanya.

Usai meresmikan gedung, Puan lantas meninjau pameran kebudayaan dan menikmati tarian adat setempat. Politikus PDI Perjuangan itu juga menyaksikan proses menenun 20 motif songket. Puan juga sempat mencicipi sate Mak Syukur kuliner khas Padang Panjang.

Menurut Puan, songket motif Minangkabau punya ciri khusus. Karenanya, kekayaan budaya itu harus dilindungi agar tidak diklaim negara lain.

“Segera dipatenkan, jangan sampai ada negara lain mengklaim itu milik mereka. Saat ini pemerintah sudah mendorong seluruh hak paten bisa dipercepat regulasinya,” pintanya di hadapan Rektor ISI Padang Panjang Novesar Jamarun. (*)