Pungli di Sekolah, Julius Berikan Kesaksian

Padang-today.com__Kepolisian Resor (Polres) Pariaman berhasil melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap tenaga honorer di sekolah SMAN 1 Sungai Limau berinisial Anton (37) Kecamatan Sungai Limau, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa 14/8/2018 beberapa hari lalu.

Advertisements

Dari tangan tersangka petugas berhasil mengamankan barang bukti senilai Rp 9,767 juta, 3 buah stempel sekolah dan ijazah siswa, kartu bebas pustaka dan daftar tanda terima ijazah.  Dari keterangan tersangka bahwa uang tersebut dipungut untuk menebus ijazah bagi siswa yang sudah lulus.

Selain itu, menurut pengakuan pelaku bahwa ia sudah melakukan pungutan itu sejak enam tahun terakhir, dengan melakukan pungutan Rp 60 ribu per siswa atau ijazah. Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya Operasi Tangkap Tangan, Polisi Amankan Penjaga Sekolah SMA.

Julius (52) salah satu orang tua murid mengatakan kepada www.padang-today.com, setiap siswa yang sudah tamat dan ingin mengambil ijazah dibebankan uang pungutan sebesar Rp. 460.000, terdiri dari sumbangan wajib komputer Rp. 100.000, sumbangan sukarela komputer Rp. 100.000, mengambil ijazah Rp. 60.000, uang kenang2an Rp. 100.000 dan sumbangan tidak jelas Rp. 100.000. Total Rp. 460.000

Ia menjelaskan, setiap siswa yang sudah tamat dan ingin mengambil ijazah harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 460.000, terdiri dari sumbangan wajib komputer Rp. 100.000, sumbangan sukarela komputer Rp. 100.000, mengambil ijazah Rp. 60.000, uang kenang-kenangan Rp. 100.000 dan sumbangan tidak jelas Rp. 100.000. dengan total Rp. 460.000.

Kesemua ini, kata dia, tidak ada payung hukum yang mengikat. Kebijakan yang dilahirkan oleh pihak sekolah tersebut tidak pernah dibicarakan dan dimusyawarahkan dengan masyarakat atau orang tua murid. “Banyak orang tua siswa atau siswa yang bersangkutan  memprotes tapi Kepsek tidak mau merobah putusannya. Dia tetap dengan keputusannya. Karena siswa tersebut butuh ijazah, lanjutnya, terpaksa mereka mengeluarkan koceknya,” kata dia.

Namun yang terjadi dengan Julius lain lagi. Selain dimintakan uang sebesar Rp. 460.000 untuk pengambilan ijazah anaknya, ia harus mengeluarkan uang tambahan yang disebut dengan uang komite selama 1 tahun.

“saya menyadari, memang tidak bisa membayar, karena saya dari keluarga tidak mampu. Tetapi, apa yang terjadi ketika anak saya kelas III, sehingga total yang harus saya keluarkan berjumlah Rp. 1.200.000 dan semuanya ini harus dibayar,” kata julius kemaren di Sungai Limau.

Menurut Jalius, uang komite anaknya yang sejak awal digratiskan, sengaja diminta Kepsek selama 1 tahun, karena Yulius yang gigih berbicara dalam rapat wali murid dengan komite beberapa hari lalu, ia meminta pengurangan uang komite dari Rp. 85.000 menjadi Rp. 55.000, atau disamakan dengan uang komite di SMAN 2 Sungai Limau.

Namun akhirnya uang komite SMAN 1 Sei. Limau menjadi Rp. 60.000/bulan. Karena Kepsek kesal dengan Jalius maka Jalius dipaksa untuk membayar uang komite anaknya selama 1 tahun.

Jalius yang memang butuh ijazah tersebut karena anaknya akan berangkat mencari pekerjaan ke Batam, akhirnya berupaya menjual anting-anting anak dan istrinya untuk mendapatkan uang Rp. 1.200.000. Uang itulah yg diserahkannya kepada tersangka ‘An’ dan menjadi salah satu alat bukti OTT punglindi SMAN 1 Sei. Limau.

Dipihak lain, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Sungai Limau Zulkaham mengatakan, uang yang dipungut itu memang dilakukan guna untuk kepengurusan ijazah siswa bagi yang telah lulus.

“Jika siswa itu kurang mampu maka tidak diharuskan, namun bagi yang mampu silakan membayarnya sesuai atasan kesepakatan oleh pihak komite dengan orangtua siswa. Uang tersebut di peruntukkannya jelas, yakni mengurus ijazah siswa yang lulus dintaranya, dalam perencanaanya yaitu uang lelah wakil kepala sekolah, ATK, uang lelah kepala sekolah, insentif guru dan lainnya,” kata dia.

Menurutnya, pungutan uang pengambilan ijazah itu telah disepakati oleh komite dengan pihak orangtua siswa karena dana bantuan operasi sekolah (Bos) yang tidak mencukupi disekolah ini. “Pungutan tersebut, atas dasar Permendikbud nomor 75 tahun 2016 tentang komite sekolah boleh untuk menggalang dana. Ada sebanyak Rp 1,4 juta per siswa dengan jumlah siswa yang ada dana bos sekarang ini,” tandasnya menghakiri. (suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*