Ruang Terbuka Hijau Bisa Meredam Stres

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Advertisements

Jakarta, PADANGTODAY.COM-Pembangunan yang cenderung mengabaikan kesehatan jiwa terlihat dari terbatasnya ruang-ruang publik yang bisa diakses masyarakat secara gratis.

Kemacetan di jalan yang makin parah, lalu lintas tidak tertib, serta spanduk dan baliho raksasa yang bertebaran di sepanjang jalan membuat pikiran masyarakat tidak tenang meski tidak sedang menghadapi pekerjaan. Saat tiba di rumah, perumahan kecil yang berdesakan dan berbagai persoalan keluarga semakin menekan warga.

Meski ruang publik penting, sangat jarang kota yang memiliki ruang publik, khususnya ruang terbuka hijau dalam kondisi baik. Jika tidak beralih fungsi, taman-taman kota banyak yang tidak terawat. Justru mal-mal dan supermarket yang dianggap sebagai simbol modernisasi makin merasuk hingga ke kota-kota kecil.

James Siahaan dalam Ruang Publik: Antara Harapan dan Kenyataan, 2010, menyebut, terjadinya penurunan kuantitas ruang publik, khususnya ruang terbuka hijau, secara signifikan selama 30 tahun terakhir. Di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung, luas ruang terbuka hijau telah berkurang dari 35 persen pada awal tahun 1970-an menjadi sekitar 10 persen pada 2010. Sebagian besar ruang terbuka hijau beralih fungsi menjadi infrastruktur perkotaan dan kawasan permukiman baru.

Penelitian Mathew White dari Pusat Kajian Eropa untuk Studi Lingkungan dan Kesehatan Manusia di Universitas Exeter, Inggris, dan rekan yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science and Technology 2014 menyebut keberadaan ruang terbuka hijau di perkotaan berdampak positif dan berkelanjutan terhadap kualitas kehidupan masyarakat.

Dari analisis data Panel Survei Rumah Tangga Inggris sejak 1991 yang dikompilasi Universitas Essex, disimpulkan bahwa masyarakat yang tinggal di daerah dengan ruang terbuka hijau memadai memiliki tingkat stres rendah. Hal itu memberikan manfaat berkelanjutan dalam kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Sebagaimana diberitakan dalam tulisan utama Kompas, Kamis, gangguan mental emosional berupa stres, kecemasan, dan depresi bukan monopoli masyarakat kota. Mereka yang tinggal di desa, kota kecil, hingga pulau terluar pun banyak yang mengalami.

“Masyarakat di kota besar stres karena menghadapi beban dan tuntutan kerja, sedangkan di kota kecil karena persoalan ekonomi, seperti kemiskinan atau sulitnya mencari kerja,” kata Direktur Bina Upaya Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Eka Viora di Jakarta, Rabu (20/5).

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan, 6 persen masyarakat Indonesia yang berumur lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional. Prevalensi tertinggi penderita gangguan di Sulawesi Tengah sebesar 11,6 persen.

Namun, penderita gangguan mental emosional justru banyak terdapat di kota kecil dan daerah terluar, seperti Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, sebesar 37,1 persen dan Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, sebesar 22,3 persen. Warga kota dengan prevalensi cukup tinggi ada di Kota Bogor, Jawa Barat, sebesar 28,1 persen.

Mereka yang rentan mengalami gangguan mental emosional adalah orangtua, perempuan, berpendidikan dan berpenghasilan rendah, serta tinggal di kota.

Riskesdas tidak menjelaskan penyebab stres dan depresi yang dialami masyarakat. Namun, Eka menilai faktor risiko pemicu munculnya gangguan mental emosional itu, baik di kota maupun desa, sama. Namun, persoalannya berbeda.

Stres muncul akibat adanya tekanan atau beban hidup. Stres menjadi kecemasan jika apa yang dikhawatirkan belum terjadi dan menjadi depresi jika “bencana” yang ditakutkan sudah terjadi. Munculnya stres biasanya ditandai dengan gangguan tidur, mudah terkejut, cemas berlebihan, sulit berkonsentrasi, jantung berdebar, hingga gangguan fisik seperti sakit perut dan diare.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Danardi Sosrosumihardjo mengatakan, stres bisa menjadi cemas atau depresi sangat bergantung pada daya tahan seseorang menghadapi tekanan dan besarnya tekanan yang terjadi.

Daya tahan itu dipengaruhi faktor genetika, pola asuh, kualitas gizi, kondisi lingkungan, hingga sistem pendidikan. “Mau tinggal di mana saja kalau mekanisme pertahanan dirinya kurang kokoh tetap akan mudah mengalami gangguan mental emosional,” katanya.

Kerugian ekonomi yang hilang akibat gangguan jiwa, berupa hilangnya produktivitas, beban ekonomi dan biaya kesehatan yang harus ditanggung keluarga dan negara, diperkirakan lebih dari Rp 20 triliun setahun.

Meski nilai kerugiannya besar, kata Danardi, persoalan kesehatan jiwa masih diremehkan. Stres dianggap bisa berlalu seiring berjalannya waktu. “Mengobrol atau mengungkapkan isi hati kepada keluarga atau sahabat adalah cara terbaik melepaskan stres tanpa bantuan psikiater atau psikolog,” ujarnya.

(mzw/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*