Saksang Merupakan Makanan Populer Restoran Khas Sumatra Utara

saksangdalamPADANGTODAY.com – Suku Batak di tanah Sumatra Utara sendiri, ada enam sub suku. Terdiri dari Batak Karo, Batak Toba, Batak Angkola, Batak Mandahiling, Batak Pakpak dan Batak Simalungun. Dari sub suku tersebut, Batak Mandahiling adalah satu- satunya yang masyarakatnya beragama Islam.

Daging ayam, babi, kebau, dan anjing adalah beberapa yang paling banyak dinikmati suku Batak Karo, Batak Toba, dan Batak Pakpak. Khususnya daging anjing, masyarakat mempunyai sebutan yaitu b1 yang datang dari kata ‘biang’ atau pendamping tuak alias ‘tambul’. Karenanya daging hewan tersebut banyak juga disebut sebagai tambul biang.

Saksang adalah hidangan berkuah kental kecokelatan yang biasanya diracik bersama daging b1, ayam, atau sapi. Kuahnya yang kenyal berasal dari darah hewan yang dicampur dengan bumbu seperti kelapa perut, andaliman, ketumbar, jahe, lengkuas, kunyit, serai, daun jeruk purut, dan daun salam. Setelah matang disajikan dengan daun singkong tumbuk.

Kepopuleran saksang juga ikut terbawa saat mulai banyaknya Lapo (restoran khas Sumatra Utara) di Jakarta. Walau penjualannya masih belum mengalahkan b2 (babi), Lapo Ni Tondong Ta di Jl. Gelora Los A1, Senayan menyatakan b1 masih cukup diminati.

Daging- daging b1 yang ia beli diakui berasal dari pemasok yang berdomisili di Cililitan, Jakarta Timur. Daging sudah dibeli dalam bentuk karkas dari bagian seperti paha dan punggung. Satu kg nya dijual dengan harga Rp 35.000 hingga 40.000.

“Harga tergantung kondisinya, kalau potongannya terlalu banyak lemak harganya sekitar Rp 35.000 hingga 37.000 karena lemak itu akan dibuang. Tapi, pas kondisinya bagus dan banyak daging dihargai Rp 40.000,” tambahnya. Di jaringan restorannya, dikatakan hanya ada variasi b1 rica- rica yang satu porsinya dijual dengan harga Rp 30.000.

(dk/nol)