Si Bule jadi Marapulai dan Menginjak Kacadi PDIKM

Wisatawan yang berkunjung ke PDIKM tidak lagi hanya berkesempatan mendengarkan sederetan sejarah Minangkabau saat menaiki rumah gadang. Berikut suasana paket wisatan yang dikemas Pok Darwis desa wisata Kubugadang Kelurahan Ekorlubuk.

Advertisements

Ratusan pasang mata tampak terkesima melihat nuansa baru saat berkunjung ke PDIKM dalam rangkaian perjalanan wisata. Meski tampak berdesakan saat berdiri di gerbang PDIKM, rombongan tampak bergegas ingin mengetahui surprise yang akan dirasakan melihat sekelompok pemuda berpakaian adat di halaman rumah bagonjong itu baru-baru ini.

Sontak para pengunjung berusaha menjinjit jari kaki untuk tidak terlewatkan saat mengikuti aksi penari dan suara gendang dengan suhu atmotsfirnya yang membuat merinding. Aksi pemuda berpakaian adat yang dilanjutkan gemulainya gerak tari dari gadis-gadis Minang, ditutup dengan penyuguhan siriah kepada rombongan wisatawan satu persatu secara bergantian, termasuk seorang pria warga negara asing.

Bule yang kemudian diketahui bernama Brad asal Australia itu, awalnya tampak terkejut saat menggigit daun sirih berisi bubuk sadah. Namun tidak berselang lama, baik si bule maupun wisatawan dari perusahaan Pricewater House Coopers Indonesia itu tampak mulai bisa menikmati meski beberapa di antaranya langsung memuntahkan kembali saat hendak menuju rumah gadang.

Di dalam rumah gadang, rombongan wisatawan tampak seperti mahasiswa perguruan tinggi yang khusuk mendengarkan materi tentang sejarah Minangkabau terkait rumah gadang. Di antaranya makna 9 ruang yang ada sebagai gambaran jumlah keluarga yang menghuni rumah tersebut, arti ukiran, tiang dan fungsi masing-masing rangkian serta dua ajungan pada rumah gadang tersebut.

Tentang 9 ruang yang ada, rombongan wisata mengetahui di sana terdapat 9 keluarga yang menghuninya. Jumlah kamar-kamar yang ada di rumah gada, juga menggambarkan banyaknya turunan anak perempuan pada kaum tersebut. Karena kamar-kamar itu hanya diperuntukkan bagi anak perempuan yang baru menikah.

“Anak perempuan Minangkabau pada kaum itu, setelah menikah akan menempati kamar pertama yang berada di sisi ajungan ninik mamak. Kamar itu digunakan untuk pengantin berikutnya secara bergantian. Sedangkan bagi anak perempuan di kaum itu yang sudah cukup matang berkeluarga akan pindah ke rumah hasil pencaharian bersama suami setelah sekian lama menikah,” terang salah seorang petugas PDIKM.

Sdangkan tentang dua ajungan yang ada di kanan dan kiri pada ruangan utama, yakni sebagai tempat para ninik mamak (tokoh kaum) menjalankan proses demokrasi dan satu lainnya sebagai tempat tidurnya para anak gadis Minangkabau. Sementara dalam tradisi Minangkabau, anak laki-laki yang beranjak remaja diharuskan tidur di surau (mushalla) sembari menimba ilmu keagamaan dan bela diri untuk menjaga kampung halamannya.

Mengikuti prosesi wisata edukasi kebudayaan Minangkabau di PDIKM itu, pada tahab berikutnya dua di antara wisatawan didaulat menjadi pasangan mempelai ala Minangkabau. Pasangan mempelai di mana marapulainya seorang bule asal Austalia, di arak tabuhan gendang berkeliling taman sebelum memasuki rumah gadang tempat prosesi adat makan bajamba.

Berikutnya, pasangan mempelai dihibur dengan kesenian tradisi berupa Tari Piriang Suluah oleh grup kesenian Aguang. Pada proses ini rombongan wisatawan tampak tidak merasakan kelelahan meski telah melakukan perjalan wisata cukup jauh sejak mendarat dari BIM Padang. Bahkan puncak kebahagian wisatawan begitu nyata saat berkesempatan merasakan atmosfir “ritual” menginjak pecahan kaca pascatari piring.

“Meski sedikit merasa takut di awal, saya betul-betul merasakan kesenangan yang amat sangat saat sudah berada di atas pecahan-pecahan kaca itu. Kelelahan yang mendera ketika turun dari bus saat sampai di sini, seperti lenyap sempurnya. Kami betul-betul menikmati prosesi kebudayaan ini sejak awal hingga akhir,” ungkap Brad didampingi Syaichun yang merupakan salah seorang staf pada perusahaan Pricewater House Coopers Indonesia itu. (nto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*