SMKN 2 Padangpanjang, Semangat Garap Film dengan Peralatan Seadanya

Suasana pembuatan Film pelajar Kota Padangpanjang.

Suasana pembuatan Film
pelajar Kota Padangpanjang.

Advertisements

PADANGPANJANG,PADANTODAY.COM-Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Padangpanjang, terus berkembang memenuhi tuntutan era demografi. Pasca diresmikan tahun 2004 silam, sekolah kejuruan tersebut hingga kini telah memiliki empat jurusan tekhnologi komputer dan terbaru Tekhnik Produksi dan Penyiaran Program Pertelevisian (TP4).

Di bawah cerahnya cuaca kota berjuluk Serambi Mekkah yang telah sekian lama tertutup kabut asap, 14 siswa-siswi tampak serius melakukan pengambilan gambar menggunakan kamera DSLR jenis EOS 600 Cannon di salah satu taman sudut sekolah. Tiga di antaranya tampak serius menjalankan peran masing-masing, sembari disaksikan anggota kelompok lainnya di bawah keteduhan rindang pohon.

“Kamera action”, suara Reka Fanelia yang bertindak selaku direktor terdengar saat memulai tahapan scane 17 pembuatan film berjudul “Aku Ingin Sekolah”. Sementara M Iqbal berperan selaku anak seorang pemulung, di bawah sorotan kamera sembari memandang foto berukuran kecil berdialog dengan ibunya yang telah berpulang beberapa waktu silam.
Beberapa kali seson pengambilan gambar mulai dari akting sekolah hingga kembali membatu sang ayah yang diperankan Ifran Khalid untuk mengumpulkan barang bekas dengan bermodalkan dua karung kecil sebagai property pembuatan film tersebut. Hal yang sama juga dilakukan kelompok kerja lainnya di bawah arahan Fahri Irsyad Siregar selaku direktor dengan Yoga Alwasih memerankan anak dan Reza Ramadhan selaku ayah.

Proses pembuatan film perdana kelas broadcast jurusan TP4 tersebut, langsung di bawah pengawasan Dipa Adi Martius selaku tenaga pengajar bersama Linda Gumanti dari jurusan Multimedia. Meski tergolong baru dan hanya didukung peralatan seadanya, keseriusan siswa-siswi kejuruan tersebut tampak mulai percaya diri dan seakan tidak terganggu dengan kesibukan aktivitas balajar mengajar jurusan lainnya di sekolah tersebut.

Dipa yang juga berstatus sebagai guru di Jurusan TKJ itu, mengaku sangat sulit mengawali proses pembelajaran terhadap peserta didik pada pendidikan kejuruan yang baru saja dikenal siswa-siswi lulusan SMP tersebut. Kesulitan itu di antaranya dikarenakan belum punya rasa kepercayaan diri dalam berakting di depan kamera dengan situasi lingkungan sekolah yang ramai.

“Tapi di sisi lainnya, kesulitan saat-saat di awal memang sedikit terasa karena juga tidak didukung peralatan yang sesuai dengan kebutuhan. Tapi syukurlah sampai pada tahap sekarang, masa itu telah berakhir meski masih banyak harapan peserta didik yang belum terpenuhi,” tutur Dipa kepada koran ini di sela-sela proses syuting.

Penggarapan film berdurasi 20 menit sebagai karya perdana bagi siswa-siswi tersebut hingga saat ini telah memasuki scane 18 pada pekan ke tiga dengan hanya mengandalkan peralatan pinjaman dari jurusan multimedia. Yakni dua kamera DSLR, dua unit laptop, mixer dan komputer guna mengolah gambar secara bergantian bagi dua kelompok. Hal ini nantinya sulit untuk pengembangan skil bagi peserta didik yang akan dibagi dalam kelompok-kelompok kecil.

“Keterbatasan perangkat untuk mendukung jurusan ini diakui akan sangat mempengaruhi percepatan skil dan pengembangan bakat anak-anak. Salah satu langkah upaya percepatan pengembangan bakat dan skil mereka, memang harus didukung perlatan yang memadai seperti kamera camcorder, reflektor, lighting dan komputer speck tinggi,” ujarnya.
Sementara Kepala Sekolah SMKN 2 Padangpanjang, Ivery Morphi menyebut pengembangan sekolah kejuruan sangat sulit dilakukan percepatan jika mengacu pada kebijakan sekolah grastis. Terutama sekali proses pembelajaran broadcast di jurusan TP4, yang membutuhkan banyak perangkat pendukung selain peralatan utama.

“Di antaranya dalam pembuatan suatu produksi film, mereka pasti membutuhkan berbagai peralatan pendukung yang disebut dengan istilah properti. Contohnya dalam pembuatan film perdana ini, mereka harus menyiasati dengan mencari properti yang mudah didapat tanpa harus mengeluarkan biaya. Karena itu untuk jurusan yang satu ini, perlu support yang total dari pemerintah atau dinas,” terang Ivery di ruangannya. (nto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*