Taruhlah Spirit Kesijunjungan di Hati Rakyat

Taruhlah Spirit Kesijunjungan di Hati Rakyat

Advertisements

Oleh: Lindo Karsyah

Lindo Karsyah

Lindo Karsyah

Sekira pukul 10.00 WIB, Selasa, 16 Februari 2016, berjejerlah puluhan mobil di tepi kiri dan kanan jalan menuju tugu Hari Jadi Kabupaten Sijunjung, Tanjung Bonai Aur, Kecamatan Sumpur Kudus. Dari pengamatan, mobil plat merah adalah mayoritas dari jumlah mobil yang parkir di sana.

Dan di sepanjang jalan itu, ada warga. Sebagian duduk di teras rumah sambil melihat orang yang datang. Mereka hanya di rumah. Tidak ikut ke tempat upacara. Sebagian lagi, ada yang berdiri di pinggir jalan. Yang berdiri ini tampak takjub melihat bapak-bapak/ibu-ibu yang memakai jas dan kebaya. Entah apa yang berkelabat dalam pikiran. Tapi yang nyata, pandangan mereka yang tak lepas dari sosok-sosok yang ikut acara seremonial perayaan hari jadi kabupaten.

Bila mendekat ke tugu, tampaklah aparat polisi, tentara, Satpol PP, dan pegawai negeri sipil berbaris. Mereka menunggu Pj. Bupati Mudrika datang. Sementara di depan tugu ada tenda dan di bawahnya diletakkan kursi. Jumlah kursi menurut panitia hanya 400 buah. Karena pejabat dari Muaro banyak yang datang, kursi yang ada tidak cukup. Apalagi veteran yang sedianya diundang 100 orang, datangnya 120 orang.

Ini benar yang disesali oleh kebanyakan ninik mamak dan tokoh masyarakat Tanjung Bonai Aur. “Kami diundang, tapi kami tidak ada tempat duduk. Kami hanya berdiri saja. Nyaris setiap tahun begini. Tahun sebelumnya, karena diprotes, kami dikasih kursi. Tapi tahun ini, kembali yang lama itu berulang lagi,” kata seorang tokoh masyarakat di Kantor Wali Nagari Setempat.

Lebih tragisnya, sambung seorang pemuda setempat, acara ini hanya meninggalkan sampah di sini. Usai acara, pejabat berhamburan pulang, kemudian hanya sampah yang bertebaran. “Kami bukan tidak punya rasa memiliki terhadap hari jadi, tetapi karena kami tidak diikutsertakan sebagaimana mestinya, kami tidak tahu mau berkata apa lagi. Kalau pun diundang, hanya sekadar basa-basi saja. Kami menjadi penonton di kampung kami sendiri. Kami tahu di Tanjung Bonai Aur ini dideklarasikan Kabupaten Sijunjung. Ini titik sejarah dan tonggak cikal bakal kabupaten. Akan tetapi kenapa kami sepertinya tidak dianggap sebagai warga yang punya sejarah?” protesnya.

Terus terang saya terkesima dan terkejut. Sebagai orang yang berlatar belakang jurnalis, fakta ini menggelitik. Banyak pertanyaan yang muncul sepanjang saya ada di sana. “Dimana rakyat dalam konteks peringatan ini?” Rakyat ada, tetapi berdiri di pinggir jalan. Mereka keluar rumah, mungkin karena melihat keramaian.

Apa konsep perayaan hari jadi ke-67 Kabupaten Sijunjung tidak merakyat, membumi dan mengakar ke hati masyarakat? Apakah acara peringatan seremonial belaka? Apakah tidak ada evaluasi setiap tahun sehingga pelaksanaannya hanya bersifat rutinitas saja?

Bila dilihat dari agenda perayaan yang dimulai dari tanggal 29 Januari hingga 5 Maret 2016, banyak acaranya. Ini dia acara pokok; upacara hari jadi di  Tanjung Bonai Aur, Kecamatan Sumpur Kudus, dan rapat istimewa DPRD di gedung DPRD. Ada senam kesegaran jasmani, gerak jalan jantung sehat, seminar kesehatan, pemeriksaan kesehatan, penyerahan sertifikat akreditasi RSUD, launching Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Kemudian pertandingan bola voli nagari cup, pertandingan buluh tangkis, sepeda santai, kejuaraan catur Bupati Sijunjung Cup II non master se-Sumatera, senam aerobic, pertandingan futsal, lomba pidato tentang hari jadi Kabupaten Sijunjung. Ada lagi festival tari gelombang, festival nyanyi pop Minang, talempong pacik, saluang dendang, selawat dulang, band akustik Minang, qasidah rebana dan festival randai.

Selanjutnya, malam hiburan, pameran pembangunan dan bazar, pemberian bantuan logistik, anjangsana ke panti asuhan, donor darah, lomba drumband junior TK dan SD, lomba drumband senior SLTP dan SLTA, lomba debat bahasa Inggris dan bahasa Indonesia serta lomba cerdas cermat IV Pilar Kebangsaan.

Seabrek agenda perayaannya. Tak cukup jari jemari kita untuk menghitung. Beragam aspek perlombaan diseret untuk menyemarakkan. Lantas apa yang kurang? Apakah fenomena di Tanjung Bonai Aur itu juga menggejala di nagari lain? Apakah hari jadi ini hanya bergema tapi tidak punya roh? Apakah semua panitia dan peserta lomba tahu dengan momentum perlombaan? Kalau sudah tahu, apakah mereka menjiwai spirit kesejarahannya? Apakah mereka tahu nilai heroik pembentukan kabupaten ini?

Dari wawancara dan pendekatan fenomonologi yang saya lakukan, pemahaman khalayak hanya pada aspek seremonialnya saja. Bahwa setiap tanggal 18 Februari, Kabupaten Sijunjung merayakan hari milad. Jika masa ini sudah datang, aka nada bazaar. Warga yang dekat dengan Muaro, tempat bazaar digelar akan berbondong-bondong ke sana.

Apa yang dipamerkan di bazaar? Sebagian besar terlihat bukan sebuah pameran, tetapi pasar malam. Banyak produk luar yang dijual. Banyak makanan yang ditransaksikan. Masyarakat lebih tertarik pada perkara jual beli di bazaar.

Apakah itu salah? Ini bukan perkara salah atau benar, melainkan menyangkut tujuan perayaan. Jika orientasi perayaan untuk memperingati, apa yang dilakukan oleh Pemkab Sijunjung, lebih dari cukup. Tetapi manakala  hari jadi dimaknai sebagai momentum untuk menggalang dan menumbuhkan rasa memiliki atau kebersamaan dalam pembangunan, tentu harus ada perspektif lain yang mesti dilakukan.

Bagaimana akar sejarah terbentuknya Kabupaten Sijunjung menghujam ke dalam ingatan publik dan visinya menjulang dalam mimpi orang banyak. Tentu pola dan formula perayaan bergeser dari seremonial ke substansial. Dalam bahasa Goenawan  Muhammad; mengukuhkan ikatan batin dengan kehidupan. Bagaimana mengkongkritkannya? Jawabannya satu; marilah duduk bersama dan beriya bertidalah para pemangku kepentingan mulai dari nagari hingga kabupaten. Kian banyak gagasan terapan, kian mudah kita melihat dan memilih yang tepat.***

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*