Tim Gabungan Sidak Perdaran Beras Berbahan Plastik

Reflis

Reflis

Advertisements

PADANGTODAY.COM — Guna mengantisipasi peredaran beras sintetis yang marak beredar di Pulau Jawa, Pemerintah Kota Padangpanjang melalui Dinas Koperindag dan UMKM bersama instansi terkait, menggelar kegiatan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke sejumlah pedagang beras di kawasan Pasaar Padangpanjang baru-baru ini.

Sejumlah lokasi yang menjadi objek kunjungan tim, tidak ditemukan adanya beras sintetis atau beras berbahan plastik yang beredar di Padangpanjang, maupun sejumlah distributor beras di kota berjuluk “Serambi Mekah” itu.

Kepala Dinas Koperindag dan UMKM Kota Padang Reflis, disela-sela kegiatan Sidak menyampaikan, maraknya pemberitaan tentang beredarnya beras berbahan plastik yang sangat meresahkan masyarakat itu. Lansung ditindaklanjuti dengan menggelar Sidak yang melibatkan beberapa SKPD terkait, seperti Dinas Koperindag dan UMKM, Kepolisian, Dinas Kesehatan, Satpol PP dan beberapa SKPDD terkait.

“Sejak maraknya pemberitaan tentang beras palsu di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Sebenarnya, kita di Padangpanjang telah melakukan pemantauan sejak jauh-jauh hari, termasuk juga pemantauan terhadap sejumlah bahan pangan yang tidak layak edar dan mengandung zat-zat berbahaya bagi kesehatan masyarakat,” sebut Reflis.
Dikatakannya, dari sejumlah pedagang beras yang ditemui tim, rata-rata mereka hanya menjual beras lokal dengan kualitas bagus, meskipun ada juga pedagang yang menjual beras yang berasal dari luar Sumbar.

“Kejelian masyarakat dalam membeli beras juga menjadi patokan dari tim. Karena, rata-rata yang banyak dibeli masyarakat adalah beras lokal dengan kualitas yang cukup bagus,” jelasnya.
Fatimah, salah seorang pedagang beras yang ditemui tim mengaku, maraknya pemberitaan tentang adanya beras berbahan plastik yang beredar di pasara, memang cukup meresahkan pembeli. Apalagi, cukup banyak pembeli yang selalu menanyakan asal daerah beras yang mereka beli.
“Penjualan beras akhir-akhir ini memang cukup menurun, tetapi tidak dipengaruhi oleh adanya isu beras plastik beredar di pasaran. Tetapi, lebih dipengaruhi penurunan ekonomi masyarakat yang berpengaruh terhadap daya beli,” katanya.
Fatimah bersama beberapa rekannya, juga sangat selektif dalam memilih beras yang akan mereka pasarkan. Apalagi, pasokan beras untuk wilayah Padangpanjang masih diisi oleh daerah-daerah hiterland.

Sementara itu Masri Edwar, salah seorang pengamat ekonomi ketika dihubungi menyebutkan, rebaknya pemberitaan tentang beras berbahan plastik di sejumah daerah di Pulau Jawa, tidak akan berpengaruh terhadap terhadap masyarakat di daerah, khususnya di Sumatera Barat.
“Peredaran beras plastik itu, lebih disebabkan oleh tingginya permintaan pasar dan tidak terpenuhinya tingkat kebutuhan masyarakat. Sehingga, menjadi celah oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab untuk memasarkan beras dengan harga murah, meskipun berbahaya bagi kesehatan masyarakat,” sebutnya.

Diakuinya, tingkat kebutuhan masyarakat akan beras di Pulau Jawa lebih tinggi bila dibandingkan dengan daerah-daerah di luar Jawa. Apalagi di Padangpanjang maupun Sumatera Barat, dimana masing-masing daerah sudah bisa memenuhi kebutuhan beras masyarakatnya, malahan produksi beras yang ada di Sumatera Barat sudah surplus dan diexspor ke beberapa provinsi tetangga.
“Kejelian masyarakat dalam memilih beras yang akan di komsumsi, juga sangat mempengaruhi. Apalagi, masyarakat kita sudah terbiasa mengkonsumsi beras lokal dengan kualitas nasi yang cukup baik. Jangankan untuk membeli beras dari luar, dikasih beras jatah Bulog saja cukup banyak warga yang tidak mengkomsumsinya,” ungkap Masri.
(nto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*