Warga Taram Resah, Hutan Pinus Dijarah, Alasan Untuk Objek Wisata

Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

Advertisements
Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

Perambahan hutan pinus di Taram.

LIMAPULUH KOTA, PADANG-TODAY.com–Masyarakat Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, mengaku sudah lama resah adanya praktek perambahan hutan vinus secara liar di kawasan Jorong Tanjung Ateh Kapalo Banda, Taram. Keserahan warga itu disampaikan ke Balai Wartawan (BW) Limopuluah, agar kawan-kawan media turun melalukan pemantauan ke daerah tersebut. Sudah sekian banyaknya warga yang mengadu.

Namun, sebelum tim investigasi Balai Wartawan Luak Limopuluah turun ke lokasi, terlebih dahulu mengontak kepala Dinas Kehutanan Pertambangan dan Energi Kabupaten Limapuluh Kota, untuk menanyakan dan memastikan apakah benar adanya terjadi aksi perambahan hutan di kawasan Jorong Tanjuang Ateh,Taram tersebut.

Ketika rekan-rekan wartawan berhasil menghubungi Kepala Dinas Kehutanan Pertambangan dan Engeri Limapuluh Kota, Ir Khalid, awalnya, orang nomor satu di lembaga yang memiliki tugas dan wewenang untuk menjaga kelestarian hutan Limapuluh Kota itu, mengaku tidak tahu adanya aksi perambahan hutan di kawasan tersebut.

“Saya tidak tahu!” tegasnya. Awalnya.

Namun, beberapa menit kemudian, Khalid justru yang balik menelpon rekan wartawan yang menghubunginya dan mengajak wartawan untuk turun ke lokasi.

Karena tim investigasi BW Luak Limopuluah memang telah merencanakan untuk turun ke lokasi tersebut, kontan saja ajakan Kepala Dinas Kehutanan Pertambangan dan Engeri Limapuluh Kota itu direspon kawan-kawan media. Pendek cerita, sejumlah wartawan media cetak, televisi serta media online, turun ke lokasi, Selasa (14/10).

Sesampai di lokasi, ternyata di kaki bukit Kapalo Banda Jorong Tanjuang Ateh, Taram tersebut,  sudah dibuka akses jalan sepanjang 3 kilometer dengan lebar sekitar 5 meter.

Menurut pengakuan Kadinas Kehutanan Pertambangan dan Energi, Khalid, jalan tersebut dibangun dengan dana aspirasi anggota dewan. Meski secara resmi Kadinas Kehutanan mengaku bahwa, pihaknya hanya diberi tahu saja atas dibukanya jalan tersebut dan tidak pernah memberikan izin resmi, namun dia mengaku pembukaan jalan baru itu untuk pembangunan objek wisata.

Sepanjang jalan baru yang dibuka, tim investigasi BW Luak Limopuluah menyaksikan kayu-kayu ukuran kecil terkasuk kayu pinus berukuran besar dirambah oleh perambah hutan.

Kepada tim investigasi BW Luak Limopuluah, pihak Dinas Kehutanan Pertambangan dan Engeri Limapuluh Kota berdalih bahwa, pohon pinus yang dirambah itu adalah pohon pinus yang sudah mati.

Padahal, di lokasi hutan berstatus Hutan Penggunaan Lain (HPL) yang menghubungkan Jorong Tanjung Ateh. Taram, dengan Nagari Buluh Kasok itu, terlihat puluhan batang pohon pinus seperti sengaja dibakar, untuk kemudian ditebang dan diolah menjadi papan panil diperkirakan berukuran 30 x 5 cm.

Lebih mengejutkan lagi, ternyata, di hujung jalan baru yang telah dibuka memanfaatkan dana APBD Limapuluh Kota yang tidak diketahui berapa ratus juta rupiah jumlahnya itu, sudah lahan seluas puluhan hektar.

Di lokasi, ditemukan seorang anggota DPRD Limapuluh Kota, yang mengaku sebagai pemilik lahan dan berencana akan membangun objek wisata Water Boom di lokasi tersebut.

Kepada tim investigasi, ia membantah melakukan perambahan hutan, kecuali dia membenarkan telah menebang sejumlah pohon pinus untuk pembangunan bedeng yang didirikannya di lokasi tersebut.

“Dari pada saya membeli kayu di luar, lebih baik saya olah saja pohon pinus ini. Dan lagi, pohon pinus yang saya tebang adalah pinus yang sudah mati,” kilahnya.

Apapun alasannya, yang pasti, aksi penebangan hutan pinus yang berpungsi sebagai reboisasi hutan itu, jelas tidak dibenarkan. Namun, herannya, meski pihak Dinas Kehutanan Limapuluh Kota sudah menyaksikan adanya aksi pengrusakan hutan pinus di Jorong Tanjung Ateh, Taram, tersebut terkesan membiarkan dan malah tidak mempersoalkan.

Sejumlah masyarakat Taram yang dihubungi mengaku, pengrusakan hutan yang terjadi di jorong Tanjung Ateh,Taram, tidak hanya sebatas penebangan kayu-kayu kecil dan kayu pinus saja.

Namun, lebih dari itu, jauh didalam areal hutan yang banyak didapati jalan-jalan kecil alias jalan mancik dan anak sungai, menurut warga, jalan dan anak sungai tersebut merupakan akses jalan untuk membawa kayu-kayu hasil perambahan hutan yang dilakukan secara liar.

Sementara itu, Walinagari Taram, Kusnedi,mengakui adanya aksi perambahan hutan di lokasi tersebut. Namun, dia tidak berani mempersoalkan dengan alasan takut diteror.

”Dari awal saya sudah meminta kepada pihak yang mengajukan pembukaan lahan untuk mengurus izin ke Dinas Kehutanan. Apalagi kayu-kayu yang ditebang adalah hutan pinus. Namun, kenyataannya yang bersangkutan tidak mengurus izin,” aku Walinagari.(Tim Investigasi Balai Wartawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*