Zul Ifkar Rahim, Impian Anak Desa Meraih Cita-Cita / catatan PINTO JANIR

H Febby Dt Bangso - Zul Ifkar Rahim ST

H Febby Dt Bangso – Zul Ifkar Rahim ST

Advertisements

SOSOK ZUL IFKAR RAHIM CALON WAKIL WALIKOTA PASANGAN H FEBBY DATUK BANGSO NAN PUTIH

PERJALANAN  HIDUP ZUL IFKAR RAHIM SANG ANAK DESA MERAIH CITA-CITA

“LELAKI MINANG ITU HARUS KUAT,  GIGIH DAN SANTUN”

Kisah Satu

Kepada ayah saya berapak. Apak tak mendidik kami dengan manja. Apak orangnya tegas, berdisiplin dan kadang keras. Bukan keras karena pelekat tangan, bukan begitu. Apak keras dalam cara mendidik anak. Kami dididik untuk mandiri. Harus melepaskan banyak ketergantungan kepada orang banyak. “ Wa-ang kalau ingin jadi orang bermartabat, harus labiah sering tangan di atas daripada tangan di bawah. Lelaki Minang itu harus kuat dan gigih, harus punya sikap yang jelas. Tidak boleh seperti pucuk aru yang bertenggang kepada angin berkisa. Laki-laki harus tegas dan kuat serta rajin mencari…”, kata Apak.

KENANGAN yang paling tak bisa saya lupakan adalah kenangan indah semasa bocah. Sehabis pulang sekolah saya sering duduk di bandar-bandar ketek antara pematang dan jalan setapak di bawah rindang batang kayu yang rimbun. Ikan-ikan bermain di air yang jernih. Bunyi air jatuh mengingatkan saya pada nagari Balaigurah yang Indah. Nagari yang berada di kaki bukit gunuang Marapi yang gagah.

Kini, tak ada lagi ikan-ikan yang bermain di bandar itu. Ikan seperti lenyap. Saya kira, lenyapnya ikan itu akibat penggunaan pestisida yang berlebihan.

Pada masa bocah itu, saya merasakan betapa kentalnya aura keminangkabauan. Dari ketek mamak saya sudah mengajarkan untuk hidup yang sesuai alur dengan patut. Tabu bersikap apa nan kelamak dek awak. Melihat orang sedang mahirik padi, ada rasa tak lamak bila kita lewat begitu saja. Berhutang rasanya bathin kalau kita tak ikut membantu orang mahirik padi. Rasa bersalah saja rasanya ini diri bila lalu begitu saja.

Pada masa SD saja, mamak akan panjang lihatnya kalau kita beriring-iringan dengan pedusi sesama besar. Tidak bisa disapa dengan mata mamak yang membulalak, biasanya mamak langsung berang. “ wa ang bajalan-jalan jo anak gadih urang, indak muhrim wa ang tu doh. Badoso awak!”.

Begitu berkharismanya mamak. Begitu hormatnya kami pada mamak. Terdengar saja bunyi langkah mamak, sudah kuncun kami dibuatnya. Beda benar dengan keadaan sekarang. Begitu pula dengan rasa hormat kepada orangtua, jangankan akan menjawab perkataan orangtua, memandang matanya saja, tak sanggup rasanya kita. Dan itu, berbeda sekali dengan apa yang terjadi pada saat ini. Kadang-kadang sering kita dengar, banyak anak-anak sekarang yang berjawab-kata dengan orangtuanya sendiri. Ini adalah sebuah keprihatinan kita bersama ketika tergerusnya moral dan nilai-nilai adat dan aqidah di tengah kehidupan anak kemenakan kita pada saat ini.

Nilai-nilai moral, adat dan agama, haruslah kita perkokoh kembali dengan menghidupkan kembali lembaga surau dan lembaga keadatan. Kita tak ingin anak kemenakan kita terjebak pada jurang nista akibat minusnya nilai-nilai religius di dada mereka dan tak pahamnya mereja akan nilai-nilai kearifan lokal.

Ya, saya lahir 10 Januari 1958 dari seorang ayah yang pedagang. Nama Ayah saya Rahimuddin (alm) dan ibu Khadijah. Saya anak keempat dari lima bersaudara. Kakak saya yang paling besar Ediwar, pensiunan Hukum dan Ham dan pernah menjabat sebagai orang kedua pada Dirjen Pemasyarakatan. Setelah itu lahir uni saya, namanya Yulinar (ibu rumah tangga), lalu uni Farida Neti (bekerja di PMI Pusat) dan kemudian saya; Zul Ifkar Rahim. Lalu adik saya; Evi Eniwati ( kini hidup di Jakarta, ibu rumah tangga).

Kepada ayah saya berapak. Apak tak mendidik kami dengan manja. Apak orangnya tegas, berdisiplin dan kadang keras. Bukan keras karena pelekat tangan, bukan begitu. Apak keras dalam cara mendidik anak. Kami dididik untuk mandiri. Harus melepaskan banyak ketergantungan kepada orang banyak. “ Wa-ang kalau ingin jadi orang bermartabat, harus labiah sering tangan di atas daripada tangan di bawah. Lelaki Minang itu harus kuat, harus punya sikap yang jelas. Tidak boleh seperti pucuk aru yang bertenggang kepada angin berkisa. Laki-laki harus tegas dan kuat serta rajin mencari…”, kata Apak.

Ketika kami masih berempat beradik kakak, Apak membawa kami pergi merantau ke Tapanuli Selatan. Apak melihat ada peluang yang rancak di Tapanuli. Kami tinggalkan Balaigurah yang indah itu.

Di daerah rantau Apak membuka rumah makan. Nama rumah makannya, Rumah Makan Bahagia. Ramai orang singgah ke rumah makan Apak. Kadai Apak banyak disinggahi bus ALS, Atom dan ANS. Ramai penumpang dan supir makan di sana. Selama di Tapanuli itu, ekonomi kami agak mendapat.

Saat rumah makan Apak sedang berasaki,  pecah pula pemberontakan Gestapu tahun 1965. Masa itu saya baru kelas dua. Seiring itu berhembus isu SARA. Takut terjadi apa-apa dengan anak bininya, Apak memutuskan diri untuk membawa kami kembali ke Balaigurah.

Sebenarnya saya bersedih juga meninggalkan daerah rantau ini, karena mulai terasa lamak berkawan dengan kawan sesasama besar di sana. Sebelum berpisah, saya bersalam-salaman dengan kawan sesama besar.(bersambung)

 

== CURRICULUM VITAE ==

N a m a : ZUL IFKAR RAHIM. ST

Tempat dan Tanggal Lahir : Bukittinggi, 10 Januari 1958

Kewarganegaraan : Indonesia

Jenis Kelamin : Pria

Agama : Islam

Status Perkawinan : Kawin

Alamat : Jl. Sudirman No 25 A. Birugo Bukittinggi

PENDIDIKAN : 1992 : Sarjana Teknik Planologi Unisba Bandung 1997 : Politeknik Pekerjaan Umum/ITB Bandung 1978 : Sekolah Teknik Menegah Negeri – I – Padang

PENGALAMAN KERJA : 1979 – 1984 : Departmen Pekerjaan Umum Jakarta 1984 – 1999 : Departmen Transmigrasi & Pemukiman Perambah Hutan Jakarta 1999 – 2003 : Departmen Transmigrasi & Tenaga Kerja Jakarta 2004 – 2014 : Pemda Kota Bukittinggi Pengalaman Organisasi 1987 : Mendirikan Organisasi Minang ”Utasebumi (Unit Pecinta Seni Budaya Minang) di Unisba – Bandung 1992 : Penyelenggara Seminar Budaya Minangkabau di Unisba Bandung 2008 : Penyelenggara Lokakarya Pengembangan Bukittinggi Koto Rang Agam di Istana Bung Hatta. Bukittinggi 2011 : Penyelenggara Seminar Bukittinggi Salingka Agam di Istana Bung Hatta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*